Kromatografi gas
Kromatografi Gas
James
dan Martin adalah 2 ilmuwan yang pertama kali mengajukan kosep kromatografi gas
(KGC) pada tahun 1952. Tetapi ada pendapat lain yang mengemukakan bahwa konsep
KGC telah diajukan sebelumnya yaitu oleh Martin dan Synge pada tahun 1941.
Kromatografi gas di aplikasikan sebagai salah satu instrumen analisis fisiko-kimia yang sasarannya sampai saat ini adalah untuk analisis kualitatif dan kuantitatif.
Kromatografi gas adalah suatu metode yang didasarkan pemisahan fisik zat organik atau anorganik yang stabil pada pemanasan dan mudah diatsirikan.
Kromatografi sebagai instrument untuk analisis fisika kimia menduduki posisi yang sangat penting dan banyak dipakai, hal ini disebabkan oleh :
Kromatografi gas di aplikasikan sebagai salah satu instrumen analisis fisiko-kimia yang sasarannya sampai saat ini adalah untuk analisis kualitatif dan kuantitatif.
Kromatografi gas adalah suatu metode yang didasarkan pemisahan fisik zat organik atau anorganik yang stabil pada pemanasan dan mudah diatsirikan.
Kromatografi sebagai instrument untuk analisis fisika kimia menduduki posisi yang sangat penting dan banyak dipakai, hal ini disebabkan oleh :
1.
Aliran fase gerak (gas) sangat terkontrol dan kecepatannya tetap
2.
Sangat mudah terjadi pencampuran uap sample ke dalam aliran fase gerak
3.
Pemisahan fisik terjadi di dalam kolom yang jenisnya banyak sekali, panjang dan
suhunya dapat diatur.
4.
Banyak detektor yang dapat dipakai.
5. Mudah
digabung dengan instrumen lain (GC-MS, GC-FTIR-MS)
Kelima hal tersebut di atas telah melebarkan jangkauan penggunaan
kromatografi gas yang sampai saat ini secara luas banyak digunakan / dibutuhkan
untuk analisis fisiko-kimia (kualitatif dan kuantitatif)
Pada kromatografi gas sample diuapkan di dalam gerbang suntik (injection port) dan selanjutnya mengalami pemisahan fisik pada kolom setelah dielusi dengan fase gerak (gas pembawa) yang inert (lembam).
Ada dua metode kromatografi gas, yaitu :
Pada kromatografi gas sample diuapkan di dalam gerbang suntik (injection port) dan selanjutnya mengalami pemisahan fisik pada kolom setelah dielusi dengan fase gerak (gas pembawa) yang inert (lembam).
Ada dua metode kromatografi gas, yaitu :
|
Image
1 : KGC
|
1.
Kromatografi Gas Padat (KGP) : Fase diam pada KGP adalah butiran-butiran
adsorben padat dan fase geraknya adalah gas. Mekanisme pemisahan komponen
sample adalah perbedaan fisik adsorpsi oleh fase diam. Ada beberapa kelemahan
KGP yaitu : adsorpsi fase diam terhadap komponen-komponen sample bersifat
semipermanen terutama terhadap molekul yang aktif atau molekul yang polar. Di
samping itu, KGP sering kali memberikan bentuk kromatogram yang berekor.
Kelemahan yang lain dari KGP adalah efektivitas pemisahan komponen sanhat
dipengaruhi oleh bobot molekul. KGP lebih efektif untuk pemisahan
komponen-komponen dengan massa relative (Mr) rendah.
2.
Kromatografi Gas Cair (KGC) dikemukakan pertama kali oleh Martin dan Synge.
Pada KGC sebagai fase diamnya adalah cairan yang disalut tipis pada permukaan
butiran padat sebagai pendukung, sedangkan fase geraknya adalah gas yang
lembam. mekanisme pemisahannya adalah perbedaaan partisi komponen-komponen
sample diantara fase diam dan fase geraknya.
Partisi Gas - Cair
Sample di dalam kolom akan memisah, karena perbedaan partisi antara 2 fase. Untuk molekul, suhu dan fase cair tertentu akan memberikan konstanta distribusi (Kp) yang tertentu :
Sample di dalam kolom akan memisah, karena perbedaan partisi antara 2 fase. Untuk molekul, suhu dan fase cair tertentu akan memberikan konstanta distribusi (Kp) yang tertentu :
|
Image
2 : KGP
|
Kp sama dengan rasio antara konsentrasi komponen dalam fase cair
dengan konsentrasi komponen dalam fase gas atau rasio antara berat komponen
dalam fase cair / volume fase cair dengan berat komponen dalam fase cair /
volume fase cair.
Kp = Kβ
K =
rasio partisi ; β = rasio fase
K
disebut sebagai rasio partisi atau rasio kapasitas sedangkan β disebut sebagai
rasio fase.
Harga K
sangat erat hubungannya dengan waktu tambat / retensi (tR).
Harga β
erat hubungannya dengan jenis kolom dan volume fase cair dalam kolom sebagai
fase diam.
Untuk
kolom "open tubuler" harga β = r / 2.d.f
-
r = jari-jari penampang kolom
-
d.f = lapis tipis fase cair yang menyalut support dalam kolom
Profil
Kromatogram
Pada
kromatografi gas, respon detektor terhdapa molekul-molekul di dalama sample
secara ideal tergambar sebgai kurva Gauss yang dikenal sebagai bentuk
kromatogram yang ideal. Kromatogram merupakan hubungan antara respon detektor
waktu (menit) hingga terlihat puncak dari kromatogram tersebut.
Bagian - bagian penting dari suatu kromatografi gas meliputi :
|
Image
5 : FID Detector
|
1.
Reservoir / Depo gas pembawa
2.
Injection Port / Gerbang suntik
3. Kolom
Kromatograf
4.
Kontrol Suhu
5.
Detektor
|
Image
4 : TCD Detector
|
Gas Chromatography video...
KROMATOGRAFI GAS DAN APLIKASINYA PADA PEMISAHAN
2. 1 DEFINISI
Secara etimologi,
Kromatografi berasal dari bahasa yunani yang berarti ‘warna’ dan ‘tulis’.
Kromatografi gas (GC), merupakan jenis kromatografi yang digunakan dalam kimia
organik untuk pemisahan dan analisis, Oleh karena itu, senyawa-senyawa kimia
yang akan dipisahkan haruslah dalam bentuk gas pula. GC dapat digunakan untuk
menguji kemurnian dari bahan tertentu, atau memisahkan berbagai komponen dari
campuran. Kromatologi gas memisahkan suatu campuran berdasarkan kecepatan
migrasinya di dalam fasa diam yang dibawa oleh fasa gerak. Sedangkan perbedaan
migrasi ini disebabkan oleh adanya perbedaan interaksi diantara senyawa-senyawa
kimia tersebut (di dalam campuran) dengan fasa diam dan fasa geraknya.
Interaksi ini adalah adsorbsi, partisi, penukar ion dan jel permiasi.
Kromatografi gas
termasuk dalam salah satu alat analisa (analisa kualitatif dan analisa
kuantitatif), kromatografi gas dijajarkan sebagai cara analisa yang dapat
digunakan untuk menganalisa senyawa-senyawa organik. Kita telah mengetahui
bahwa ada dua jenis kromatografi gas, yatiu kromatografi gas padat (KGP), dan
kromatografi gas cair (KGC). Dalam kedua hal ini sebagai fasa bergerak adalah
gas (hingga keduanya disebut kromatografi gas), tetapi fasa diamnya berbeda.
Meskipun kedua cara tersebut mempunyai banya persamaan. Perbedaan antara
kedunya hanya tentang cara kerja.
Pada kromatografi gas padat (KGP) terdapat adsorbsi dan pada kromatografi gas cair (KGC) terdapat partisi (larutan). Kromatografi ga padat (KGP) digunakan sebelum tahun 1800 untuk memurnikan gas. Metode ini awalnya kurang berkembang. Penemuan jenis-jenis padatan baru sebagi hasil riset memperluas penggunaan metode ini. Kelemahan metode ini mirip dengan kromatografi cair padat. Sedangkan kromatografi gas cair sering disebut oleh para pakar kimia organic sebagai kromatografi fasa uap. Pertama kali dikenalkan oleh James dan Martin pada tahun 1952. Metode ini paling banyak digunakan karena efisien, serba guna, cepat dan peka. Cuplikan dengan ukuran beberapa microgram sampel dengan ukuran 10 gram masih dapat dideteksi. Sayangnya komponen cuplikan harus mempunyai tekanan beberapa torr pada suhu kolom.
Pada kromatografi gas padat (KGP) terdapat adsorbsi dan pada kromatografi gas cair (KGC) terdapat partisi (larutan). Kromatografi ga padat (KGP) digunakan sebelum tahun 1800 untuk memurnikan gas. Metode ini awalnya kurang berkembang. Penemuan jenis-jenis padatan baru sebagi hasil riset memperluas penggunaan metode ini. Kelemahan metode ini mirip dengan kromatografi cair padat. Sedangkan kromatografi gas cair sering disebut oleh para pakar kimia organic sebagai kromatografi fasa uap. Pertama kali dikenalkan oleh James dan Martin pada tahun 1952. Metode ini paling banyak digunakan karena efisien, serba guna, cepat dan peka. Cuplikan dengan ukuran beberapa microgram sampel dengan ukuran 10 gram masih dapat dideteksi. Sayangnya komponen cuplikan harus mempunyai tekanan beberapa torr pada suhu kolom.
Gambar 1 dan 2. Alat kromatografi gas
2. 2 KOMPONEN –
KOMPONEN PADA KROMATOGRAFI GAS
Pada dasarnya komponen penting pada yang harus ada pada setiap alat kromatografi gas adalah :
Pada dasarnya komponen penting pada yang harus ada pada setiap alat kromatografi gas adalah :
1. Tangki pembawa
gas
2. Pengatur aliran
dan pengatur tekanan
3. tempat injeksi
4. kolom
5. detektor
6. rekorder
Gambar 3. Skema Peralatan Kromatografi Gas
1. Tangki pembawa gas
Fungsi gas pembawa adalah
mengangkut cuplikan dalam kolom ke detektor. Bermacam-macam gas telah digunakan
dalam KGC, misalnya, hydrogen, helium, helium, memungkinkan difusi yang lebih
longitudinal dari solute, yang cenderung menurunkan efisiensi kolom, terutama
pada laju arus yang lebih rendah. Maka nitrogen mungkin merupkan suatu pilihan
yang lebih baik untuk gas-pembawa agar dapat dilakukan suatu pemisahan yang
benar-benar sukar. Pemilihan gas pembawa hars disesuaikan dengan jenis detektor
yang digunakan. Hubungan antara gas pembawa dengan detektor dinyatakan dalam
table di bawah ini :
|
Gas pembawa
|
DHP
|
DIN
|
DTE
|
DFN
|
|
Helium
|
X
|
X
|
-
|
-
|
|
Hydrogen
|
X
|
-
|
-
|
-
|
|
Nitrogen
|
X
|
X
|
x
|
x
|
|
Argon
|
-
|
-
|
x
|
-
|
DHP = detektor hantaran panas (TCD)
DIN
= detektor ionisasi nyala (FID)
DIE = detektor tangkapan nyala (ECD)
DFN = detektor fotometri nyala
Gambar 4. Tangki pembawa gas
2. Pengatur Aliran
dan Pengatur Tekanan
Ini disebut
pengatur atau pengurang Drager. Drager bekerja baik pada 2,5 atm, dan mengalirkan massa
aliran dengan tetap. Tekanan lebih pada tempat masuk dari kolom diperlukan untuk
mengalirkan cuplikan masuk ke dalam kolom. Ini disebabkan, kenyataan lubang
akhir dari kolom biasanya mempunyai tekanan atmosfir biasa. Juga oleh kenyataan
bahwa suhu kolom adalah tetap, yang diatur oleh thermostat, maka aliran gas
tetap yang masuk kolom akan tetap juga.
Demikian
juga komponen-komponen akan dielusikan pada waktu yang tetap yang disebut waktu
penahanan (the retention time), tR. Karena kecepatan gas
tetap, maka komponen juga mempunyai volume karakteristik terhadap gas
pengangkut = volume penahanan (the retention volume), vr. Kecepatan
gas akan mempengaruhi effisiensi kolom.
Harga-harga yang umum untuk kecepatan gas untuk kolom yang memiliki diameter
luar.
1/4"
O.D : kecepatan gas 75 ml/min
1/8"
O.D : kecepatan gas 25 ml/min.
3.
Tempat Injeksi
Sejumlah kecil sampel
yang akan dianalisis diinjeksikan pada mesin menggunakan semprit kecil. Jarum
semprit menembus lempengan karet tebal (Lempengan karet ini disebut septum)
yang mana akan mengubah bentuknya kembali secara otomatis ketika semprit
ditarik keluar dari lempengan karet tersebut.
Injektor berada dalam
oven yang mana temperaturnya dapat dikontrol. Oven tersebut cukup panas
sehingga sampel dapat mendidih dan diangkut ke kolom oleh gas pembawa misalnya
helium atau gas lainnya.
Gambar 5. Injektor ports
4. Kolom
Jika
suatu cuplikan dianalisis dengan GC maka pemisahan terjadi pada kolom. Kolom di
dalam GC sering disebut dengan ”jantung GC”. Hal ini disebabkan karena
keberhasilan suatu analisis ditentukan oleh tepat dan tidaknya kolom yang
dipilih serta jenis cuplikan yang akan dianalisis.
Kolom
GC terdiri dari 3 bagian yaitu wadah luar yang terbuat dari logam (tembaga,
baja tahan karat, nikel),gelas atau plastik mislanya teflon dan isi kolom yang
terdiri dari padtan pendukung dan fasa cairan.
Kolom isian
Fasa
stasioner dalam kromatografi gas cair (KGC) adalah cairan, tetapi cairan itu
tidak boleh dibiarkan bergerak – gerak di dalam tabung. Cairan tersebut harus
dimobilisasi, biasanya dalam bentuk satu lapisan tipis dengan luas permukaan
besar. Ini paling lazim dilakukan dengan mengimpregnasi suatu bahan padat
dengan fasa cair sebelum kolom diisi. Padatan tersebut harus bersifat inert
secara kimiawi terhadap zat – zat yang nantinya akan dikromatografikan, stabil
pada temperatur operasi, dan memilki luas permukaan yang besar persatuan berat.
Penurunan tekanan yang dibutuhkan untuk laju alir gas yamg diinginkan harus
tidak boleh berlebihan. Kekuatan mekanis lebih diinginkan agar partikel –
partikelnya tidak pecah dan mengubah distribusi ukuran partikel dengan
penanganan. Kebanyakan padatan yang digunakan sebagai penyangga pada KGC sangat
berpori. Adsorben aktif seperti karbon aktif dan silika gel adalah penyangga
padat yang buruk. Bahkan jika dilapisi dengan lapisan cairan tipis maka padatan
ini akan menyerap komponen – komponen sampel yang menyebabkan pengekoran
(tailing). Bahan penyangga padat yang paling umum adalah tanah diatom. Untuk
dapat digunakan sebagai penyangga padatan maka tanah diatom dijadikan seperti
bata dan dipanaskan di dalam tanur kemudian digerus halus sampai dan disaring
dengan ukuran mesh tertentu.
Pemilihan fasa cair
Fasa cair harus dipilih dengan mempertimbangkan masalah pemisahan tertentu.
Cairan tersebut harus memiliki tekanan uap yang sangat rendah pad temperatur
kolom; sebuah petunjuk praktis mengusulkan suatu titik didih sekurang –
kurangnya 2000C di atas temperatur di mana cairan akan diberikan.
Dua alasan penting untuk menginginkan volatilitas yang rendah adalah pertama,
hilangnya cairan akan menghancurkan kolom itu, dan kedua, detektor akan memberi
respon pada uap fasa stasioner dengan hasil penyimpangan pada garis dasar perekam
dan menurunkan kepekaan terhadap komponen – komponen sampel yang dianalisis.
Jelas,
fasa cair harus stabil secara termal pada temperatur kolom, dan kecuali dalam
kasus – kasus khusus, cairan itu tidak bereaksi secara kimia dengan komponen –
komponen sampel. Cairan tersebut harus memiliki daya pelarut yang cukup untuk
sampel. Mengingat aturan lama bahwa ”sejenis melarutkan sejenis” , bisa
dinyatakan bahwa secara umum seharusnya ada sedikit kesamaan kimiawi antara zat
cair dan zat terlarut yang dipisahkan.
Jumlah cairan yang diberikan pada penyangga padatan
adalah penting. Jika terlalu banyak cairan, zat terlarut akan menghabiskan
terlalu banyak waktu berdifusi ke fasa cair, dan efisiensi pemisahan menjadi
berkurang. Terlalu sedikit cairan menyebabkan zat terlarut berinteraksi dengan
padatan itu sendiri., adsorpsi dapat menyebabkan pengekoran dan tumpang
tindihnya pita – pita elusi. Pemuatan cairan berbeda – beda dengan sifat
penyangga padatan, ukuran sampel yang diantisispasi dan faktor – faktor lain, tetapi
umumnya dalam rentang 2 atau 3 sampai sekitar 20% berat cairan. Biasanya
padatan diolah dengan suatu larutan dari cairan yang diinginkan dalam suatu
pelaut yang volatil, dimana pelarut dipindahkan dengan pemanasan dan
selanjutnya dibuang dengan gas pembawa.
Gambar 6. Kolom paking
5. Detektor
Berbeda
dengan alat analisis lainnya, detektor pada kromatografi gas pada umumnya lebih
beraneka ragam. Hal ini disebabkan detektor pada GC mendeteksi aliran bahan
kimia dan bukan berkas sinar seperti pada spektrofotometer. Beberapa
pertimbangan dalam merancang suatu detektor dapat dikemukan sebagai berikut :
1. Detektor GC harus dapat mendeteksi dalam waktu beberapa detik.
2. Cuplikan yang masuk ke dalam detektor harus volatil dan bebas dari pengaruh
matrik. Hal semacam juga terjadi pada spektrometri serapan atom atau emisi.
3. Detektor GC mempunyai kepekaan yang kebih dibandingkan dengan alat analisis
pada umumnya.
4. Detektor GC mempunyai kisaran dinamik yang sangat besar, umunya lebih besar
daripada 107.
5. Detektor GC dapat pula digunakan sebagai alat identifikasi walaupun
kegunaan secara umum adalah untuk keperluan kuantitatif
Beberapa
parameter yang sering dijumpai pada detektor adalah ratio signal terhadap noise
(S/N), batas deteksi minimum (BDM), faktor respon atau ratio signal terhadap
jumlah cuplikan, kisran dinamik linear, dan kespesifikan.
Rasio
S/N dalam banyak hal dikaitkan dengan BDM. Batas deteksi minimum suatu detektor
tehadap suatu cuplikan ditentukan oleh rasio S/N. Salah satu kesepakatan yang
dicapai adalah BDM = 2 S/N. Yang dimaksud signal adalah respon detektor
terhadap senyawa kimia yang masuk ke dalamnya sedangakan noise berasal dari
alat ( getaran rekorder setelah diperbesar maksimum). Harga BDM untuk beberapa
detektor dapat dilihat pada tabel berikut:
Harga
BDM untuk beberapa detektor
|
Detektor
|
BDM
|
Senyawa yang dianalisis
|
|
Hantaran panas
|
5 x 10-10
|
Propana
|
|
Ionisasi nyala
|
5 x 10-12
|
Propana
|
|
Tangkapan elektron
|
5 x 10-16
|
Lindan
|
|
Fotometri nyala
|
5 x 10-10
2 x 10-12
|
Tiofen
Tributilfosfat
|
|
Ionisasi nyala
|
5 x 10-14
|
Azobenzena
|
|
Alkali (DINA)
|
5 x 10-15
|
Tributilfosfat
|
Jenis
– jenis dari detektor :
a. Detektor konduktivitas termal
Alat
ini mengandung baik suatu filamen logam yang dipanaskan maupun suatu termistor.
Termistor adalah bantalan kecil yang dispakan dengan menggabungkan campuran
logam oksida umumnya dari mangan, kobal, nikel, dan runut logam lainnya.
Elemen,
filamen atau termistor dari detektor dipanaskan pada kondisi tunak, memiliki
temperatur tertentu yang ditentukan oleh panas diberikan padanya dan laju
hilangnya panas ke dinding ruang yang mengelilinginya.
Detektor itu umunya memiliki dua sisi, masing- masing elemennya sendiri. Gas
pembawa murni menelusuri satu sisi detektor yang terletak di depan di depan
lubang injeksi sampel, sementara efluen kolom mengalir melalui sisi lainnya.
Helium merupakan gas pembawa yang cocok untuk detektor konduktivitas termal
karena konduktivitas termalnya jauh lebih besar daripada kebanyakan senyawa
organik dan tidak memiliki suatu bahaya ledakan. Kepekaan detektor
konduktivitas termal dapat ditingkatkan dengan menjalankan elemen – elemen pada
temperatur yang lebih tinggi dengan memberikan suatu arus jembatan yang
besar, Tetapi melibatkan harapan hidup elemen tersebut kecil. Detektor ini
secara umum tidak bersifat menghancurkan.
Gambar 7. Detektor konduktivitas termal
a. Detektor pengionan nyala
Prinsip dasar detektor pengionan nyala adalah energi kalor dalam nyala
hidrogen cukup untuk menyebabkan banyak molekul untuk mengionisasi. Gas efluen
dari kolom dicampur dengan hidrogen dan dibakar pada ujung jet logam dalam
udara brlebih. Suatu potensial diberikan antara jet dan elektroda kedua yang
bertempat di atas atau sekitar nyala itu. Ketika ion – ion itu dibentuk dalam
nyala, ruang gas antara kedua elektroda menjadi lebih konduktif dan arus
meningkat mengalir dalam sirkuit. Arus ini melewati resistor, tegangan
terbentuk yang dikuatan untuk menghasilkan suatu isyrat yang diterima perekam.
Dengan detektor pengionan nyala, konsentrasi ion – ion dalam ruang antara
elektroda dan besarnya arus tersebut sangat bergantung pada laju dimana molekul
– molekul zat terlarut dikirim ke nyala. Berat zat terlarut yang mencapai nyala
dalam satuan waktu akan mnghasilakan respon detektor yang sama berapapun
tingkat pengenceran oleh gas pembawa. Ini dasar untuk pernyataan bahwa detektor
ini memberi respon bukan pada konsentrasi zat terlarut tetapi pada laju alir
massa zat terlarut tersebut. Juga harus diperhatikan bahwa Detektor pengionan
nyala dapat menghancurkan komponen – komponen sampel.
Gambar 8. Skematis detektor pengionan nyala dan sirkuit di
dalamnya
Kekurangan utama dari detektor ini adalah
pengrusakan setiap hasil yang keluar dari kolom sebagaimana yang terdeteksi.
Jika anda akan mengirimkan hasil ke spektrometer massa, misalnya untuk analisa
lanjut, anda tidak dapat menggunakan detektor tipe ini.
6. Rekorder
Rekorder
berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor yang diperkuat melalui
elektrometer menjadi bentuk kromatogram. Dari kromatogram yang diperoleh dapat dilakukan analisis
kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dengan cara membandingkan waktu
retensi sampel dengan standar. Analisis kuantitatif dengan menghitung luas area maupun
tinggi dari kromatogram (Hendayana, 2001). Sinyal analitik yang dihasilkan
detektor dikuatkan oleh rangkaian elektronik agar
bisa diolah oleh rekorder atau sistem data. Sebuah rekorder bekerja
dengan menggerakkan kertas dengan kecepatan tertentu. di atas kertas tersebut dipasangkan
pena yang digerakkan oleh sinyal keluaran detektor sehingga posisinya akan
berubah-ubah sesuai dengan dinamika keluaran penguat sinyal
detektor. Hasil rekorder adalah sebuah kromatogram berbentuk pik-pik dengan
pola yang sesuai dengan kondisi sampel dan jenis detektor yang digunakan.
Rekorder
biasanya dihubungkan dengan sebuah elektrometer yang dihubungkan dengan sirkuit
pengintregrasi yang bekerja dengan menghitung jumlah muatan atau jumlah energi
listrik yang dihasilkan oleh detektor. Elektrometer akan melengkapi pik-pik
kromatogram dengan data luas pik atau tinggi pik lengkap dengan biasnya.
Sistem
data merupakan pengembangan lebih lanjut dari rekorder dan elektrometer dengan
melanjutkan sinyal dari rekorder dan elektrometer ke sebuah unit pengolah pusat
(CPU, Central Procesing Unit).
Hasil pembacaan dalam
detector akan direkam dalam rekorder dan ditampilkan pada layar komputer berupa
diagram/grafik dengan puncak / pick yang berbeda-beda sesuai dengan senyawa
atau gugus senyawanya, seperti gambar di bawah ini:
Gambar 9. diagram/grafik dengan puncak / pick
2. 3 PRINSIP KERJA
KROMATOGRAFI GAS
Kromatografi merupakan
medan yang bergerak cepat karena sangat pentingnya dalam praktek dalam banyak
bidang penelitian. Usaha-uasaha berlanjut sepanjang banyak jalur, beberapa
diantaranya adalah : detektor yang lebih baik, bahan kemasan kolom yang baru,
hubungan dengan instrument lain (seperti spectrometer massa) yang dapat
membantu untuk mengidentifikasi komponen-komponen yang dipisahkan.
Cara kerja
dari kromatografi gas adalah gas pembawa lewat melalui satu sisi detektor
kemudian memasuki kolom. Di dekat kolom ada suatu alat di mana sampel – sampel
bisa dimasukkan ke dalam gas pembawa ( tempat injeksi). Sampel – sampel
tersebut dapat berupa gas atau cairan yang volatil (mudah menguap). Lubang
injeksi dipanaskan agar sampel teruapkan dengan cepat.
Aliran gas selanjutnya menemui kolom, kolom merupakan jantung intrumen tempat
di mana kromatografi berlangsung. Kolom berisi suatu padatan halus dengan luas
permukaan yang besar dan relatif inert. Namun padatan teresebut hanya sebuah
penyangga mekanika untuk cairan. Sebelum diisi ke dalam kolom, padatan tersebut
diimpregnasi dengan cairan yang diinginkan yang berperan sebagai fasa diam atau
stasioner sesungguhnya, cairan ini harus stabil dan nonvolatil pada temperatur
kolom dan harus sesuai dengan pemisahan tertentu.
Setelah muncul dari kolom itu, aliran gas lewat melalui sisi lain detektor.
Maka elusi zat terlarut dari kolom mengatur ketidakseimbangan antara dua sisi
detektor yang direkam secara elektrik.
Sebagai gambaran bagaimana yang terjadi di dalam kolom, anggap bahwa dalam
kolom tersebut memilki serangkaian kamar – kamar kecil, masing – masing
mengandung suatu bagian cairan yang nonvolatil sebagai fasa stasioner. Suatu
fasa bergerak atau gas pembawa bersama – sama dengan cairan yang sudah berupa
gas masuk ke dalam kamar pertama, di mana suatu sampel (gas yang
dikromatografikan) dari fasa bergerak. Jika cairan tersebut (fasa stasioner)
cocok dengan tujuan, sebagian sampel akan yang berupa gas tersebut akan masuk
dan dan larut di dalamnya dan sebagian lagi akan tetap ikut bersama dengan gas
pembawa tersebut. Sekarang hukum Henry, dalam bentuk biasanya, menyatakan bahwa
tekanan parsial yang dihasilkan oleh zat terlarut dalam suatu larutan encer
sebanding dengan fraksi molnya. Maka untuk distribusi benzena antara fasa cair
dan uap dalam kamar itu dapat dituliskan sebagai berikut :
Pbenzena = k Xbenzena
Di mana Pbenzena adalah
tekanan parsial dalam fasa uap, Xbenzena adalah fraksi mol benzena
dalam cairan dan k sebuah tetapan. Dalam kromatografi gas, tekanan
parsial dan fraksi mol seringkali digantikan dengan konsentrasi yang
mnghasilkan suatu koefisisen distribusi yang tak bersatuan, K :
K = konsentrasi benzena dalam fasa cair/konsentrasi benzena dalam fasa gas
Gambar 10. Ruang khayalan untuk model Craig dari
percobaan KGC
Pindahkan
gas nitrogen yang membawa sebagian sampel yang tidak terhenti pada kamar
pertama ke kamar kedua, di mana gastersebut bertemu dnegan cairan. Dalam hal
ini sebagian sampel di dalamnya akan melarut dan yang lainnya tetap ikut dengan
gas pembawa atau fasa geraknya. Dalam kromatografi, aliran fasa gerak berlanjut
sampai zat terlarut telah bermigrasi sepanjang kolom itu. Namun, setelah
menelusuri panjang kolom suatu campuran akan mengalami fraksinasi, dan kemudian
muncul satu demi satu untuk memasuki detektor. Kamar atau ruang khayalan dalam
peralatan GC disebut pelat – pelat teoritis.
Gambar 11. Kromatogram gas dari suatu campuran
hidrokarbon normal
Petunjuk cara kerja
kromatografi gas
Walaupun beberapa sistem
GC sangat rumit, pada dasarnya cara kerjanya sama. Jika GC telah dinyalakan
maka dapat dilakukan beberapa langkah berikut ini :
a.
Istrumen diperiksa, terutama jika
tidak dipakai terus-menerus. Ini dilakukan untuk mengecek apakah telah dipasang
kolom yang tepat, apakah septum injector tidak rusak (apakah ada lubang besar
atau bocor karena sering dipakai), apakah sambungan saluran gas kedap, apakah
tutup tanur tertutup rapat, apakah semua bagian listrik bekerja dengan baik,
dan apakah detektor yang terpasang sesuai.
b.
Aliran gas kekolom dimulai atau
disesuaikan. Ini dilakukan dengan membuka katup utama pada tangki gas dan
kemudian memutar katup (diafragma) sekunder kesekitar 15psi dan membuka katup
jarum sedikit. Ini memungkinkan aliran gas yang lambat (2-5 ml)/menit untuk
kolom kemas dan sekitar 0,5ml/menit untuk kolom kapiler melewati system dan
melindungi kolom dan detektor terhadap perusakan secara oksidasi. Dalam banyak
instrument modern, aliran gas dapat diatur dengan rotameter atau aliran
otomatis atau pengendali tekanan, atau dapat dimasukkan melalui modul
pengendali berlandas mikroprosesor. Apapun jenisnya, sambungan system (terutama
sambungan kolom) harus dicek dengan larutan sabun untuk mengetahui apakah ada
yang bocor, atau dengan larutan khusus untuk mendeteksi kebocoran (SNOOP),atau
dapat juga dengan larutan pendeteksi kebocoran niaga.
c.
Kolom dipanaskan sampai suhu awal
yang dikehendaki. Ini dilakukan, pada instrument buatan lama, dengan memutar
transformator tegangan peubah yang mengendalikan gelungan pemanas dalam tanur
kesekitar 90 V.
Selain prosedur kerja di
atas, pengoperasian kromatografi gas dapat dilakukan dengan tiga cara khususnya
untuk penentuan kadar zat, sebagai berikut:
a.
Cara baku internal.
Pada satu seri zat baku
internal dengan jumlah tertentu, masing-masing tambahkan sejumlah zat dengan
jumlah yang berbeda-beda. Dari masing-masing larutan baku tersebut, suntikan
dengan jumlah yang sama pada tempat penyuntikan zat. Garis kalibrasi diperoleh
dengan menggambarkan hubungan antara perbandingan luas daerah puncak kurva atau
tinggi puncak kurva zat dengan zat baku internalnya, pada sumbu vertical, dan
perbandingan jumlah zat baku dengan jumlah zat baku internal, atau jumlah zat
baku, pada sumbu horizontal.
Buat larutan zat seperti
yang tertera pada masing-masing monografi, tambahkan zat baku internal dengan
jumlah sama seperti pada larutan zat baku di atas. Dari kromatogram yang
diperoleh dengan kondisi yang sama seperti cara memperoleh garis kalibrasi,
hiitung perbandingan luas daerah puncak kurva atau tinggi puncak kurva zat
dengan luas daerah puncak kurva zat baku internal. Jumlah zat dapat ditetapkan
dari garis kalibrasi.
Untuk baku internal,
gunakan senyawa yang mantap yang puncak kurvanya terletak dekat puncak kurva
zat tetapi cukup terpisah dari puncak kurva zat, serta puncak kurva
komponen-komponen lain.
b. Cara garis kalibrasi mutlak
Buat satu seri larutan
baku. Suntikan dengan volume sama tiap larutan ke dalam tempat penyuntikan zat.
Gambar garis kalibrasi dari kromatogram, dengan berat zat pada sumbu
horizontal, dan tinggi puncak kurva atau luas daerah puncak kurva pada sumbu
vertical. Buat larutan zat seperti yang tertera pada masing-masing monografi.
Dari kromatogram yang diperoleh dengan kondisi yang sama seperti cara
memperoleh garis kalibrasi, ukur luas daerah puncak kurva atau tinggi puncak
kurva. Hitung jumlah zat menggunakan garis kalibrasi. Dalam cara kerja ini,
semua harus dikerjakan dengan kondisi yang betul-betul tetap.
c.
Cara luas daerah normalisasi
Jumlah luas daerah
puncak kurva komponen-komponen yang bersangkutan dalam kromatogram dinyatakan
sebagai angka 100. Perbandingan kadar komponen-komponen dihitung dari harga
prosen luas daerah tiap puncak kurva masing-masing.
Dalam tiga cara yang
dinyatakan di atas, tinggi puncak kurva atau luas daerah puncak kurva
ditetapkan sebagai berikut :
1.
Tinggi Puncak Kurva
Ukur tinggi dari titik
puncak kurva sepanjang garis tegak lurus hingga berpotongan dengan garis yang
menghubungkan kedua kaki dari puncak kurva.
2.
Luas daerah puncak kurva
- Lebar puncak kurva
pada pertengahan tinggi puncak kurva x tinggi puncak kurva
- Gunakan
planimeter untuk mengukur daerah puncak kurva.
2. 4 WAKTU RETENSI
Waktu yang digunakan oleh senyawa tertentu untuk bergerak
melalui kolom menuju ke detektor disebut sebagi waktu retensi (RT).
Waktu ini diukur berdasarkan waktu dari saat sampel diinjeksikan pada titik
dimana tampilan menunujukkan tinggi puncak maksimum untuk senyawa itu.
Setiap senyawa memiliki
waktu retensi yang berbeda. Untuk senyawa tertentu, waktu retensi sangat
bervariasi dan bergantung pada:
· Titik didih senyawa. Senyawa yang mendidih pada
temperatur yang lebih tinggi daripada temperatur kolom, akan menghabiskan
hampir seluruh waktunya untuk berkondensasi sebagai cairan pada awal kolom.
Dengan demikian, titik didih yang tinggi akan memiliki waktu retensi yang lama.
· Kelarutan dalam fase cair. Senyawa yang lebih
mudah larut dalam fase cair, akan mempunyai waktu lebih singkat untuk dibawa
oleh gas pembawa.. Kelarutan yang tinggi dalam fase cair berarti memiiki waktu
retensi yang lama.
· Temperatur kolom. Temperatur tinggi menyebakan
pergerakan molekul-molekul dalam fase gas; baik karena molekul-molekul lebih
mudah menguap, atau karena energi atraksi yang tinggi cairan dan oleh karena
itu tidak lama tertambatkan. Temperatur kolom yang tinggi mempersingkat waktu
retensi untuk segala sesuatunya di dalam kolom.
2.
5 KEGUNAAN KROMATOGRAFI GAS
Pembatasan utama pada GC
ini adalah yang mengenai mudahnya menguap. Contohnya harus memiliki tekanan uap
cukup pada suhu kolom, memiliki titik didih rendah, dan tidak rusak dalam
bentuk gasnya.
Kebanyakan contoh
anorganik tidak cukup menguap untuk memperkenankan penggunaan GC secara
langsung, meskipun beberapa penelitian telah dilakukan pada suhu-suhu sangat
tinggi dengan menggunakan garam-garam leburan atau campuran eutektik sebagai
fasa cair stasioner. Helida dari beberapa unsur seperti timah, titanium, arsen,
dan antimony cukup mudah menguap, dan telah di pisahkan dengan GC. Sejumlah
logam seperti berilium, alumunium, tembaga, besi, krom, dan kobal telah dapat
di GC kan dalam bentuk senyawa-senyawa khelat yang cukup mudah menguap dengan
asitelaseton dan turunan yang difluorinasikan. Misalnya aluminium, besi, dan
tembaga telah ditentukan dalam logam-campur dengan melarutkan contoh diikuti
dengan ekstraksi logam-logamnya ke dalam larutan klorofom dari
trifuoroasetilaseton yang kemudian di klamotografikan. Kesalahan-kesalahan
relative setingkat 0,2 hingga 3% telah dilaporkan.
Kromatografi gas telah
digunakan pada sejumlah besar senyawa-senyawa dalam berbagai bidang. Dalam
senyawa organic dan anorganik, senyawa logam, karena persyaratan yang digunakan
adalah tekanan uap yang cocok pada suhu saat analisa dilakukan. Berikut akan
kita lihat beberapa kegunaan kromatografi gas pada bidang-bidangmya adalah :
a.
Polusi udara
Kromatografi gas
merupakan alat yang penting karena daya pemisahan yang digabungkan dengan daya
sensitivitas dan pemilihan detektor GLC menjadi alat yang ideal untuk
menentukan banyak senyawa yang terdapat dalam udara yang kotor, KGCdipakai
untuk menetukan Alkil-Alkil Timbal, Hidrokarbon, aldehid, keton SO , HS, dan
beberapa oksida dari nitrogen dan lain-lain.
b.
Klinik
Diklinik kromatografi
gas menjadi alat untuk menangani senyawa-senyawa dalam klinik seperti :
asam-asam amino, karbohidrat, CO , dan O dalam darah, asam-asam lemak dan
turunannya, trigliserida-trigliserida, plasma steroid, barbiturate, dan
vitamin.
c.
Bahan – bahan pelapis
Digunakan untuk
menganalisa polimer-polimer setelah dipirolisa, karet dan resin-resin sintesis.
d. Minyak atsiri
Digunakan untuk
pengujian kulaitas terhadap minyak permen, jeruk sitrat dan lain-lain.
e.
Bahan makanan
Digunakan dengan TLC dan
kolom-kolom, untuk mempelajari pemalsuanatau pencampuran, kontaminasi dan
pembungkusan dengan plastic pada bahan makanan, juga dapat dipakai unutk
menguji jus, aspirin, kopi dan lain-lain.
f.
Sisa-sisa pestisida
KGC dengan detektor yang
sensitive dapat menentukan atau pengontrolan sisa-sisa peptisida yang
diantaranya senyawa yang mengandung halogen, belerang, nitrogen, dan fosfor
g.
Perminyakan
Kromatografi gas dapat
digunakan unutk memisahkan dan mengidentifikasi hasil-hasildari gas-gas
hidrokarbon yang ringan.
h.
Bidang farmasi dan obat-obatan
Kromatografi gas
digunakan dalam pengontrolan kualitas, analisa hasil-hasil baru dalam
pengamatan metabolisme dalam zat-zatalir biologi.
i.
Bidang kimia/penelitian
Digunakan untuk
menentukan lama reaksi pada pengujian kemurnian hasil
2.
6 APLIKASI KROMATOGRAFI GAS PADA PEMISAHAN
A. Percobaan Pemisahan dan Penentuan Komponen
Organik dengan Krotmaografi Gas
Kromatografi gas
merupakan metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat
rumit. Waktu yang dibutuhkan beragam, mulai dari beberapa detik untuk campuran
sederhana sampai berjam-jam untuk campuran yang mengandung 500-1000 komponen.
Komponen campuran dapat diidentifikasikan dengan menggunakan waktu tambat
(waktu retensi) yang khas pada kondisi yang tepat. Waktu tambat ialah waktu
yang menunjukkan berapa lama suatu senyawa tertahan dalam kolom.waktu tambat
diukur dari jejak pencatat pada kromatogram dan serupa dengan volume tambat
dalam KCKT dan Rf dalam KLT. Dengan kalibrasi yang patut, banyaknya (kuantitas)
komponen campuran dapat pula diukur secara teliti . kekurangan utama KG adalah
bahwa ia tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam jumlah besar.
Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan, pemisahan campuran pada tingkat g
mungkin dilakukan; tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan
kecuali jika tidak ada metode lain.
a.
Alat dan Bahan
Alat: Kromatografi gas,
jarum suntik ukuran mikro liter, tabung gas nitrogen, filler, labu takar 10ml,
pipet ukur 1ml, dan timbangan analitis.
Bahan: Senyawa standar yang sudah diketahui
rumus kimia dan konsentrasinya dan sampel campuran beberapa zat organik yang
tidak diketahui senyawa dan komposisinya.
b. Cara Kerja
·
Beberapa senyawa standar disiapkan
(diketahui rumus kimia dan kemurniannya)
·
Campuran beberapa senyawa yang
diketahui perbandingannya (misalnya 1:1:1:1 volume atau massa) dibuat.
·
Kondisi kerja ala kromatografi,
terutama temperature kolom, laju alir gas pembawa, detektor, besar arus yang
melalui detektor, attenuator, kecepatan kertas recorder, dan posisi pen pada
recorder diatur
·
Sebelum mengambil senyawa dengan
menggunakan jarum suntik, jarum tersebut dicuci terlebih dahulu dengan senyawa
yang akan digunakan untuk menghindari adanya intervensi senyawa lain akibat
pemakaian jarum suntik tersebut sebelumnya, dengan cara:
o
Senyawa yang akan digunakan dengan
menggunakan jarum ukuran mikro liter yang akan dipakai diambil dan dibuang
beberapa kali.
o
Gagang suntikan ditarik hingga
keluar dari badan jarum
o
Gagang suntikan tersebut
dibersihkan dengan menggunakan tissue
o
Suntikan tersebut dibilas kembali
dengan cara ambil dan buang senyawa tersebut
o
Gagang suntikan ditarik dan
didorong dengan posisi ujung jarum berada di tissue dengan tujuan membersihkan
sisa senyawa yang masih menempel di jarum suntik
·
Alat kromatografi gas dipastikan
siap untuk dipakai.
·
Tombol zero, enter, sig 1 ditekan
pada alat kromatografi gas
·
Senyawa standar diambil
·
Senyawa standar disuntikkan ke
dalam alat kromatografi gas masing masing sebanyak 1 kali.
·
Tombol start ditekan tepat pada
saat penyuntikkan dan alat kromatografi dibiarkan bekerja.
·
Jarum suntik yang digunakan dicuci
terlebih dahulu setiap kali akan digunakan untuk mengambil atau menyuntikkan
senyawa yang berbeda.
·
Dengan cara yang sama seperti
senyawa standar, larutan standar campuran dan sampel campuran disuntikkan.
c. Hasil Pengamatan
Pada saat penyuntikan,
alat kromatografi gas melaporkan hasil dari kromatografi dalam bentuk signal,
adapun hasil signal tersebut untuk beberapa senyawa/larutan adalah sebagai
berikut:
Metanol:
Propanol :
Butanol :
Pentanol :
Larutan standar dengan komposisi 1:1:1:1
Dengan RT adalah waktu
retensi (Retention Time), Area adalah luas segitiga di bawah puncak, Type
adalah jenis puncak yang tercatat (PB: Penetrate to Base, BB: Base to Base),
Width adalah jebar dasar puncak, dan Area% adalah persentase perbandingan luas
segitiga di bawah puncak (untuk suatu komponen) dengan luas total segitiga yang
ada.
d. Analisis dan
Pembahasan
·
Cara Kerja Alat Kromatografi Gas
Pada dasarnya, dalam
alat kromatografi gas, ada dua jenis detektor, yang pertama adalah Flame
Ionization Detektor, dan yang kedua adalah Thermal Conductivity Detektor.
Namun, untuk praktikum kali ini, jenis detektor yang dipakai adalah Thermal
Conductivity Detektor. Fasa diam yang dipakai adalah metal silicon gum. Gas
yang digunakan sebagai gas pembanding dan gas pembawa adalah gas nitrogen
karena di samping nitrogen cenderung murah jika dibandingkan dengan jenis gas
yang lain, nitrogen juga inert, aman (dibandingkan dengan gas lain yang mudah
terbakar), dan mudah didapat.
Secara umum syarat dari
bahan yang menjadi fasa stasioner adalah:
o Memiliki volatilitas yang rendah (idealnya titik
didih bahan minimal 1000C lebih tinggi dari temperatur maksimum kolom)
o Memiliki stabilitas termal
o Inert
o Karakteristik solvent (dapat menguraikan
substansi lain)
Pada percobaan kali ini,
suhu kolom yang digunakan adalah 50-90ºC dengan Initial time 1 menit, laju
perubahan suhu adalah 10ºC per menit, dan final time adalah 1 menit. Maksudnya,
pada saat alat kromatografi gas digunakan, suhu kolom akan bertahan di 50ºC selama
1 menit, setelah itu suhu akan naik secara bertahap dengan kelajuan 10ºC per
menit sampai suhu kolom itu mencapai 90ºC. Setelah mencapai suhu 90ºC, alat
kromatografi gas pun akan kembali menahan suhu kolom selama 1 menit dan setelah
itu, proses kromatografi akan berhenti. Dalam kromatografi gas, suhu di bagian
injeksi harus lebih tinggi dari suhu akhir kolom. Pada detektor pun, suhu yang
digunakan cukup relative tinggi, yaitu 160ºC. Kolom yang digunakan pun adalah
kolom kapiler yang sangat panjang namun mempunyai diameter yang sangat kecil.
Total panjang kolom kapiler dalam alat kromatografi gas ini adalah 30 meter
dengan diameter 0,053 mm. Metil Silicon Gum yang ada di dalam kolom kapiler ini
mempunyai sifat polar yang cenderung tarik menarik dengan senyawa yang
mempunyai sifat polar juga.
Prinsip utama pemisahan
dalam kromatografi gas adalah berdasarkan perbedaan laju migrasi masing-masing
komponen dalam melalui kolom. Komponen-komponen yang terelusi dikenali (analisa
kualitatif) dari nilai waktu retensinya (RT).
·
Faktor-faktor yang mempengaruhi
waktu retensi :
Nilai/harga waktu
retensi (RT) tiap komponen disebabkan oleh perbedaan titik didih (Td)
masing-masing komponen, perbedaan massa molekul relative (Mr)/perbedaan ukuran
komponen, interaksi/keterikatan masing-masing komponen dengan fasa
stasioner/fasa diam (misalnya oleh karena sifat kepolaran fasa diam serta fasa
geraknya), panjang kolom, diameter kolom, temperatur kolom dan laju/temperatur
aliran gas pembawa serta tingkat kejenuhan kolom.
Semakin rendah titik
didih suatu komponen maka waktu retensinya akan semakin kecil/singkat karena
pada temperatur tertentu zat tersebut sudah menjadi fasa uap sehingga bisa
bergerak bebas/lebih cepat sebagai fasa gerak dalam kolom kapiler sedangkan
komponen lainnya masih dalam fasa cairan. Jadi komponen yang terlebih dahulu
menjadi uap akan lebih cepat keluar dari kolom. Oleh karena itu, methanol
mempunyai waktu retensi lebih singkat dari propanol, propanol mempunyai waktu
retensi yang lebih singkat dari butanol, dan butanol mempunyai waktu retensi
yang lebih singkat dari pentanol.
Semakin kecil ukuran
sebuah komponen dan semakin kecil nilai massa molekul relatifnya (Mr) maka
sebuah komponen akan lebih dapat bergerak bebas/lebih cepat keluar dari kolom.
Jadi semakin kecil ukuran komponen dan semakin kecil Mr komponen maka waktu
retensinya akan semakin kecil pula. Oleh karena itu, methanol mempunyai waktu
retensi lebih singkat dari propanol, propanol mempunyai waktu retensi yang
lebih singkat dari butanol, dan butanol mempunyai waktu retensi yang lebih
singkat dari pentanol.
Jika fasa
diamnya bersifat nonpolar, maka komponen yang akan terelusi lebih cepat adalah
komponen yang paling polar, karena ikatan dengan fasa diamnya relatif lebih
lemah. Begitu juga sebaliknya jika fasa diamnya polar maka komponen yang lebih
cepat yaitu komponen yang paling nonpolar. Jadi kepolaran fasa diam dan fasa
gerak sangat mempengaruhi waktu retensi masing-masing komponen.
Semakin panjang kolom,
maka RT menjadi lambat karena jarak yang harus ditempuh oleh
senyawa tersebut cenderung lebih jauh. Sebaliknya, jika kolom pendek, maka RT
menjadi lebih cepat karena jarak yang harus ditempuh oleh senyawa
tersebut untuk menuju detektor cenderung lebih dekat.
Temperatur kolom harus
disesuaikan dengan titik didih larutan senyawa organik. Apabila temperatur
kolom terlalu rendah daripada titik didih larutan, maka tidak akan timbul
puncak karena kalor atau temperature kolom tidak cukup untuk menguapkan senyawa
yang ada. Sedangkan jika temperatur kolom jauh lebih tinggi daripada titik
didih larutan, maka TR menjadi sangat cepat karena senyawa yang ada
langsung menerima kalor dengan cepat untuk segera mengubah wujudnya menjadi
gas.
·
Pengaruh pengotor
Pada percobaan kali ini,
jika kita memperhatikan hasil cetakan dari alat kromatografi gas, kita dapat
melihat adanya puncak puncak kecil. Puncak-puncak kecil itu adalah pengotor,
baik itu pengotor yang ada di dalam kolom yang akhirnya terbaca oleh detektor,
maupun pengotor yang ada di dalam senyawa (terbawa oleh senyawa ketika
penyuntikkan). Seharusnya, tidak ada pengotor di dalam kita melakukan suatu
analisis terhadap suatu sampel atau suatu senyawa. Hasil yang paling ideal
adalah ketika yang dihasilkan adalah suatu garis lurus yang ada pada base yang
diikuti oleh puncak-puncak yang cukup significant yang menunjukkan komponen
utama dari senyawa tersebut.
·
Faktor kesalahan
Dalam praktikum ini, ada
beberapa factor kesalahan yang membuat hasil kromatografi gas tidak seideal
yang diharapkan, yaitu kemurnian analit dan ketidaktepatan waktu penginjeksian
dengan penekanan tombol start pada alat kromatografi gas. Untuk itu, kita dapat
menggunakan analit dengan tingkat kemurnian yang lebih tinggi dan kita dapat
melatih atau membiasakan diri melakukan kromatografi gas sehingga waktu
penginjeksian dan penekanan tombol dapat dioptimalkan setepat mungkin.
·
Pembahasan hasil percobaan
o Pada saat senyawa methanol dianalisis, hasil
analisis menyatakan bahwa waktu retensi untuk methanol adalah 1,369 menit dan
keseluruhan analit adalah methanol murni.
o Pada saat menganalisis senyawa propanol, timbul/
terdapat dua buah puncak, yaitu dengan waktu retensi 1,302 menit dan 1,795
menit dengan perbandingan persentase area 15,51498% dan 84,48502. Jika kita
bandingkan dengan waktu retensi methanol (1,369), maka kita bisa mendapatkan
hasil bahwa senyawa propanol yang kita analisis mengandung kurang lebih 15%
methanol dan bukan 100% propanol murni. Kemungkinan penyebabnya adalah propanol
yang ada sudah berinteraksi dengan udara bebas karena dibiarkan terbuka,
sehingga ada rantai propanol yang terputus dan menjadi methanol.
o Sama halnya seperti propanol, hasil analisis
buthanol juga menunjukkan bahwa buthanol yang kita analisis mengandung 14%
methanol karena terdapat puncak pada waktu retensi 1,310 dengan persentase area
14%. Selebihnya, terdapat puncak pada waktu retensi 2,414 dengan persentase
area 85% yang tidak lain adalah buthanol itu sendiri.
o Pada saat menganalisis pentanol, ternyata
pentanol yang ada pun bukanlah pentanol murni 100%. Terdapat 8% methanol yang
kemungkinan juga merupakan hasil dari pentanol yang terurai karena telah cukup
lama berinteraksi dengan udara bebas. Waktu retensi dari pentanol itu sendiri
adalah 2,818 menit.
o Jika kita perhatikan waktu retensi masing masing
senyawa tersebut, kita telah berhasil membuktikan bahwa waktu retensi methanol
lebih kecil dari waktu retensi propanol, waktu retensi propanol lebih kecil
dari waktu retensi buthanol, dan waktu retensi buthanol lebih kecil dari waktu
retensi pentanol.
o Ketika senyawa campuran dengan dianalisis,
timbul empat buah puncak yang masing masing puncaknya timbul di sekitar waktu
retensi berada di sekitar waktu retensi methanol, propanol, buthanol dan
pentanol. Dari waktu retensi dan perbandingan persentase area yang ada, kita
bisa melihat bahwa perbandingan antara methanol, propanol, buhanol, dan
pentanol dalam senyawa campuran mendekati 1:1:1:1. Namun jika kita amati lebih
lanjut, persentase area untuk pentanol hanya sekitar 20%, kemungkinan
penyebabnya adalah pentanol itu sudah terurai menjadi senyawa yang lain karena
berinteraksi dengan udara bebas.
o Untuk sample, setelah dianalisis dengan
menggunakan kromatografi gas, didapatkan juga ada 4 buah puncak yang waktu retensinya
juga berkisar di antara waktu retensi methanol, propanol, buthanol, dan
pentanol. Untuk puncak dengan waktu retensi 1,330 (methanol), persentase
perbandingan area terhadap total area puncak adalah 48,88542% mendekati 50%.
Untuk puncak dengan waktu retensi 1,590 (propanol), persentase perbandingan
area puncak adalah 15,96455%, mendekati 15%. Untuk puncak dengan waktu retensi
2,125 (buthanol), perbandingan persentase area puncak terhadap total area
puncak adalah 19.80757% mendekati 20%. Dan untuk puncak dengan waktu retensi
2,754 (pentanol), perbandingan persentase area puncak terhadap total area
puncak adalah 15,34246% mendekati 15%. Jika kita bandingkan keempat persentase
tersebut, maka kita bisa mendapatkan perbandingan methanol : propanol : buthanol
: pentanol = 50 : 15 : 20 : 15 = 10 : 3 : 4 :3.
B. Isolasi minyak biji mengkudu
Untuk
menentukan komposisi bahan dalam buah mengkudu, maka terlebih dulu harus
dilakukan proses pemisahan terhadap buah mengkudu dengan menggunakan alat
ekstruder. Alat ekstruder dapat digunakan untuk memisahkan komponen buah
mengkudu menjadi kulit dan biji, serta daging buah dan jus.
Dari
hasil pemisahan, biji dan kulit mengkudu merupakan bahan kedua terbesar setelah
daging buah, yaitu sekitar 27 kg/100 kg buah. Hal ini menunjukkan, proses
produksi jus mengkudu menghasilkan limbah biji yang cukup besar dan selama ini
masih belum dimanfaatkan. Sebagai gambaran, sebuah koperasi penghasil jus
mengkudu di Bogor dalam sebulan minimal memerlukan 10.000 kg buah, sehingga
dengan perhitungan di atas, minimal akan dihasilkan produk buangan berupa biji
mengkudu seberat 2.700 kg.
Proses
selanjutnya adalah proses pemisahan biji mengkudu dengan kulit buah, yaitu
dilakukan dengan cara pencucian dengan air dan penyaringan. Untuk menurunkan
kandungan air dalam biji mengkudu, maka dilakukan pengeringan terhadap biji
mengkudu menggunakan sinar matahari sehingga diperkirakan kadar airnya tersisa
2% – 8%. Biji kering tersebut selanjutnya dihaluskan untuk memudahkan analisis
proksimat dan proses isolasi minyak.
Analisis
proksimat menunjukkan, proses pengeringan berhasil menurunkan kadar air dalam
serbuk biji mengkudu menjadi 6,74%, juga dapat dilihat serat dan karbohidrat
merupakan senyawa kimia dominan dalam biji mengkudu. Sedangkan lemak atau minyak
merupakan senyawa dominan ketiga, yaitu 13,2%, sehingga dimungkinkan untuk
diisolasi menggunakan pelarut organik atau menggunakan proses mekanik berupa
pengepresan.
Dalam
penelitian ini dilakukan proses isolasi minyak menggunakan proses ekstraksi. Berdasarkan
sifat lemak yang non polar, maka dilakukan isolasi minyak menggunakan pelarut
nonpolar yaitu n-heksana dengan alat sokhlet. Proses isolasi
dilakukan pada suhu 80 oC selama 4 jam. Kondisi suhu dipilih
berdasarkan pertimbangan titik didih pelarut dan kestabilan minyak, sedangkan
parameter waktu didasarkan pada prosedur umum untuk penentuan lemak kasar.
Rendemen hasil ekstraksi minyak dengan n-heksana adalah berkisar antara
11,59% – 12,60%. Minyak yang dihasilkan umumnya berwarna kuning jernih dan tak
berbau.
Selanjutnya
terhadap minyak hasil isolasi dilakukan uji kualitas dan kandungan asam lemak.
Uji kualitas dilakukan terhadap beberapa parameter yaitu : bilangan penyabunan,
bilangan iod, bilangan asam, bilangan peroksida, berat jenis, dan indeks bias.
Bilangan penyabunan menunjukkan banyaknya basa (mg KOH) yang dibutuhkan untuk
menyabunkan 1 gram minyak. Besarnya bilangan penyabunan bergantung dari massa
molekul minyak, semakin besar massa molekul semakin rendah bilangan
penyabunannya. Hal ini dapat dijelaskan, dengan semakin panjang rantai
hidrokarbon suatu minyak, maka akan semakin kecil proporsi molar gugus
karboksilat yang akan bereaksi dengan basa. Data analisis bilangan penyabunan
minyak mengkudu adalah 185 mg KOH/gram contoh, angka ini relatif lebih kecil
bila dibandingkan dengan angka penyabunan minyak kelapa yaitu 255 – 265 mg
KOH/gram contoh.
Hal ini diduga erat kaitannya dengan kandungan asam lemak dari minyak mengkudu.
Data analisis kromatografi gas menunjukkan bahwa minyak mengkudu mengandung
asam lemak dengan massa molekul yang lebih besar bila dibandingkan dengan asam
lemak yang terkandung dalam minyak kelapa.
Bilangan iod menunjukkan banyaknya molekul iod yang dapat mengadisi ikatan
rangkap pada minyak, dinyatakan dalam gram iod per 100 gram contoh minyak.
Bilangan ini sangat penting dalam menentukan kualitas minyak berdasarkan
banyaknya ikatan rangkap dalam asam lemaknya. Semakin besar bilangan iod, maka
semakin banyak ikatan rangkap yang ada dalam asam lemak suatu minyak. Sedangkan
semakin banyak ikatan rangkap dalam suatu minyak,maka minyak tersebut akan
semakin mudah rusak, karena sifatnya yang mudah teroksidasi oksigen dalam
udara, senyawa kimia atau proses pemanasan.
Data analisis menunjukkan, minyak mengkudu mempunyai angka iod yang sangat
tinggi yaitu 114 gram iod/100 gram minyak. Angka ini jauh lebih besar daripada
angka iod minyak kelapa yaitu 8 – 10 gram iod/100 gram minyak.
Bilangan asam menunjukkan banyaknya asam lemak bebas dalam minyak dan
dinyatakan dengan mg basa per 1 gram minyak. Bilangan asam juga merupakan parameter
penting dalam penentuan kualitas minyak. Bilangan ini menunjukkan banyaknya
asam lemak bebas yang ada dalam minyak akibat reaksi hidrolisis akibat reaksi
kimia, pemanasan, proses fisika atau reaksi enzimatis.
Semakin tinggi bilangan asam maka semakin banyak minyak yang telah
terhidrolisis. Data analisis menunjukkan, bilangan asam minyak mengkudu sebesar
21,12 mg KOH/gram minyak. Besarnya bilangan ini diduga karena telah terjadi
proses hidrolisis pada minyak mengkudu terutama pada saat pemeraman buah dan
pengolahan.
Pengujian kandungan komponen asam lemak dalam minyak mengkudu bertujuan untuk
mengetahui jenis asam lemak yang ada dan dilakukan dengan menggunakan alat
kromatografi gas. Data analisis data kualitatif berdasarkan perbandingan waktu
retensi beberapa puncak kromatogram contoh terhadap standar asam lemak, maka
diamati minyak mengkudu mengandung beberapa asam lemak yaitu asam palmitat,
asam linolenat, asam oleat dan asam linoleat.
Selain itu terdapat beberapa puncak dengan waktu retensi lain yang dapat
diamati, tetapi belum dapat disimpulkan karena keterbatasan jenis asam lemak
standar. Tapi berdasarkan hasil penelitian peneliti lain juga didapatkan adanya
kandungan asam lemak yang lain seperti asam stearat.
Dari empat jenis asam lemak yang dapat diamati, ternyata minyak mengkudu
mempunyai kandungan jenis asam lemak tak jenuh yang lebih banyak. Seperti
diketahui asam oleat, asam linoleat dan asam linolenat merupakan asam lemak tak
jenuh dengan jumlah ikatan rangkap tak jenuh masing-masing berturut-turut
adalah satu, dua dan tiga. Kandungan inilah yang diduga mengakibatkan besarnya
bilangan iodium dan peroksida. Hal ini diduga juga akan menimbulkan mudahnya
minyak mengkudu untuk rusak dan berbau tengik. Hasil penelitian menunjukkan,
biji mengkudu dapat dijadikan sebagai bahan alternatif untuk memproduksi
minyak.
KESIMPULAN
Dari
uraian di atas dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1.
Pengertian kromatografi menyangkut
metode pemisahan yang didasarkan atas distribusi diferensial komponen sampel
diantara dua fasa. Menurut pengertian ini kromatografi selalu melibatkan dua
fasa, yaitu fasa diam (Stationary Phase) dan fasa gerak (Gerak Phase). Fase
diam dapat berupa padatan atau cairan yang terikat pada permukaan padatan
(kertas atau suatu adsorben), sedangkan fasa gerak dapat berupa cairan disebut
eluen atau pelarut, atau gas pembawa inert.
2.
Kromatografi
gas digunakan untuk memisahkan senyawa kimia dalm campuran kimia.
3.
Komponen penting pada yang harus
ada pada setiap alat kromatografi gas adalah :
a.
tangki pembawa gas
b.
Pengatur aliran dan pengatur
tekanan
c.
tempat injeksi
d. kolom
e.
detektor
f.
rekorder
4.
Prinsip kerja kromatografi gas adalah sebagai berikut :
a.
Menyalakan
instrumen dan mencek kondisi instrumen.
b.
Mengatur aliran
gas.
c.
Memanaskan oven.
d.
Menginjeksikan sejumlah kecil
sampel yang akan dianalisis pada mesin.
e.
Menunggu laporan hasil analisis
instumen.
5.
Waktu retensi adalah waktu yang digunakan oleh senyawa tertentu untuk bergerak
melalui kolom menuju ke detektor
6. Aplikasi
kromatografi gas pada pemisahan dapat digunakan untuk berbagai keperluan
analisis:
a.
Minyak Bumi
b. Minyak Atsiri
c. Kedokteran
d. Penelitian
e. Pestisida
f. Lingkungan
g. Minyak Biji Mengkudu
Kromatografi
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran yang didasarkan atas
perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran yang ada di dalam
sampel di antara dua fase, yakni fase diam (padat atau cair) dan fase gerak.
Ada banyak macam-macam kromatografi tapi disini saya akan menjelaskan empat
macam kromatografi saja, yaitu kromatografi gas, kromatografi cair Kinerja
Tinggi, kromatografi kertas, dan kromatografi lapis tipis.
1.
Kromatografi Gas
a.
Pengertian
Kromatografi Gas adalah proses pemisahan campuran menjadi
komponen-komponennya dengan menggunakan gas sebagai fase bergerak yang melewati
suatu lapisan serapan (sorben) yang diam.
b.
Prinsip Kromatografi Gas
Kromatografi gas mempunyai prinsip sama dengan
kromatografi lainnya, tapi memiliki beberapa perbedaan misalnya proses
pemisahan campuran dilakukan antara stasionary fase cair dan gas fase gerak dan
pada oven temperatur gas dapat dikontrol sedangkan pada kromatografi kolom
hanya pada tahap fase cair dan temperatur tidak dimiliki.
c.
Alat Kromatografi Gas
1)
Fase Mobil (Gas Pembawa)
2)
Sistem Injeksi Sampel
3)
Kolom
4)
Detektor
5)
Pencatat (Recorder)
d.
Cara Kerja
1) Gas di dalam silinder baja gialirkan melalui kolom yang berisi fasa
diam.
2) Cuplikan disuntikan pada aliran gas.
3) Cuplikan dibawa oleh gas pembawa menuju kolom di sana terjadi proses
pemisahan.
4) Komponen yang sudah terpisah meninggakan kolom.
5) Suatu detektor yang sudah dileyakkan di ujung kolom digunakan untuk
mendeteksi jenismaupun jumlah tiap komponen.
6) Hasil pendeteksi direkam oleh detektor yang disebut kromatogram,
yang terdiri dari beberapa peak.
e.
Kelebihan
1) Waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan yang tinggi.
2) Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan efisiensi
pemisahan yang tinggi.
3) Gas mempunyai vikositas yang rendah.
4) Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat
sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya tinggi.
5) Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah fase
diam yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir segala macam campuran.
f.
Kekurangan
1) Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap.
2) Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam
jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan, pemisahan pada tingkat
gram mungkin dilakukan, tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar
dilakukan kecuali jika ada metode lain.
3) Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat
reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.
2.
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
a.
Pengertian
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi merupakan salah satu
metode kimia dan fisikokimia. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi termasuk metode
analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa gerak cairan dan
fasa diam cairan atau padat.
b.
Prinsip Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
1) Fasa gerak cair dialirkan melalui
kolom ke detektor dengan bantuan pompa.
2) Sempel dimasukkan ke dalam fase gerak .
3) Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen campuran berdasarkan
kekuatan interaksi solut dengan fasa diam. Solut yang berinteraksi lemah akan
keluar lebih dulu .
4) Setiap komponen yang keluar akan dideteksi oleh detektor lalu
direkam dalam bentuk kromatogram.
c.
Alat Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
1)
Tempat Pelarut
2)
Pompa
3)
Tempat Injeksi Sampel
4)
Kolom
5)
Detektor
6)
Rekorder
d.
Cara Kerja
1) Mula-mula solven diambil melalui pompa.
2) Solven ini dikemudian masuk ke dalam katup
injeksi berbutar, yang dipasang tepat pada sampel loop.
3) Sampel dimasukan ke dalam sampel loop yang kemudian bersama-sama dengan
solven masuk kedalam kolom.
4) Hasil pemisahan dideteksi oleh detektor, yang penampakannya
ditunjukan oleh perekam (pencatat = recorder).
e.
Kelebihan
1)
Cepat
2)
Kolom dapat digunakan kembali
3)
Ideal untuk zat bermolekul besar dan berionik
4)
Mudah rekoveri sampel
f.
Kekurangan
1)
Memerlukan biaya yang banyak untuk proses pemisahannya
2)
Memerlukan orang yang trampil dalam pemisahannya
3. Kromatografi
Kertas
a.
Pengertian
Kromatografi Kertas adalah teknik metode analisis untuk
memisahkan dan mengidentifikasi campuran yang bisa berwarna (terutama pigmen)
yang terdiri dari dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak.
b.
Prinsip Kromatografi Kertas
Pelarut bergerak lambat pada kertas, komponen-komponen bergerak pada laju yang berbeda dan campuran
dipisahkan berdasarkan pada perbedaan bercak warna.
c.
Alat dan Bahan
i.
Alat
1)
Bejana dan penutupnya
2)
Penggaris
3)
Pipa Kapiler
4)
Pensil atau Ballpoint
5)
Gunting
6)
Penjepit Kertas
ii. Bahan
1)
Kertas Saring
2)
Noda (bisa berupa spidol, stabilo, dan zat warna
lainnya)
3)
Pelarut yang cocok dengan noda
d.
Cara Kerja
1) Potong kertas saring menjadi berbentuk persegi panjang (ukuran
terserah kalian yang penting bisa masuk ke dalam bejana, jangan terlalu besar
dan jangan terlalu kecil).
2) Garis ujung kertas bagian bawah (minimal jarak dari ujung kertas 1
cm untuk mencegah kontak langsung dengan pelarut).
3) Tetesi noda pada garis pembatas pada kertas.
4) Masukkan kertas yang sudah ditetesi noda tadi kedalam bejana yang
sebelumnya sudah diberi pelarut.
5) Tunggu hingga beberapa menit sampai proses penyerapan selesai.
6) Setelah itu kertas dikeringkan.
7) Ukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen noda yang dipisahkan
dan hitung nilai Rf noda tersebut.
4. Kromatografi
Lapis Tipis
a.
Pengertian
Kromatografi Lapis Tipis adalah suatu teknik pemisahan
yang sederhana dan banyak digunakan. Metode ini menggunakan lempeng kaca atau
lembaran plastik yang ditutupi penyerap untuk lapisan tipis dan kering bentuk
silika gel, alomina, selulosa dan polianida.
b.
Prinsip Kromatografi Lapis Tipis
1) memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel
dengan pelarut yang digunakan.
2) kromatografi lapis tipis memiliki fase diam berupa sebuah lapis
tipis silika atau alumina dan fase gerak pelarut atau campuran pelarut
(eluen) yang sesuai.
c.
Alat
1)
Silika Gel (fase diam) dan Pewarna (fase gerak)
2)
Gelas kimia atau bejana
3)
Lempengan
4)
pensil
d.
Cara Kerja
1) Kita siapkan alat.
2) Gambar sebuah garis menggunakan pensil pada bagian bawah lempengan
(jarak garis dari ujung lempengan berkisar antara 1-2cm).
3) Teteskan pelarut dari campuran pewarna pada garis lempengan.
4) Masukkan lempengan pada gelas kimia (jangan sampai terkena pelarut).
5) Komponen yang berbeda dari campuran pewarna akan bergerak pada
kecepatan yang berbeda dan akan tampak sebagai perbedaan bercak warna.
e.
Kegunaan
1) Untuk penentuan jumlah komponen dalam campuran.
2) Untuk penentuan identitas antara dua
campuran.
3) Untuk memonitor perkembangan reaksi.
4) Untuk penentuan keefektifan pemurnian.
5) Untuk penentuan kondisi yang sesuai untuk pemisahan pada
kromatografi kolom.
6) Untuk memonitor kromatografi kolom .
KROMATOGRAFI GAS (GAS CHROMATOGRAPHY)
A. Pendahuluan
Kromatografi gas-cair (GLC), atau kromatografi gas (GC), merupakan jenis
kromatografi yang digunakan dalam kimia organik untuk pemisahan dan analisis.
GC dapat digunakan untuk menguji kemurnian dari bahan tertentu, atau memisahkan
berbagai komponen dari campuran. Dalam beberapa situasi, GC dapat membantu
dalam mengidentifikasi sebuah kompleks.
B. Landasan
Teori
Kromatografi Gas adalah proses pemisahan campuran menjadi
komponen-komponennya dengan menggunakan gas sebagai fase bergerak yang melewati
suatu lapisan serapan (sorben) yang diam. Seluruh bentuk kromatografi terdiri
dari fase diam dan fase gerak. Sebagaiman dalam dalam fase gas-cair,
Kromatografi gas fase gerak dan fase diamnya diantaranya :
- Fase gerak adalah gas dan zat terlarut terpisah sebagai uap. Pemisahan tercapai dengan partisi sampel antara fase gas bergerak
- Fase diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat pada zat padat penunjangnya.
Bagaimana kecepatan suatu senyawa tertentu bergerak melalui mesin,
akan bergantung pada seberapa lama waktu yang dihabiskan untuk bergerak dengan
gas dan sebaliknya melekat dengan cairan dengan jalan yang sama.
Dalam kromatografi gas, fase yang bergerak (atau
"mobile phase") adalah sebuah operator gas, yang biasanya gas murni
seperti helium atau yang tidak reactive seperti gas nitrogen. Stationary atau
fasa diam merupakan tahap mikroskopis lapisan cair atau polimer yang mendukung
gas murni, di dalam bagian dari sistem pipa-pipa kaca atau logam yang disebut
kolom. Instrumen yang digunakan untuk melakukan kromatografi gas disebut gas
chromatograph (atau "aerograph", "gas pemisah").
senyawa gas yang sedang dianalisis berinteraksi
dengan dinding kolom yang dilapisi dengan berbagai tahapan stationary. Ini
menyebabkan setiap kompleks ke elute di waktu yang berbeda, yang dikenal
sebagai ingatan waktu yang kompleks. Perbandingan dari ingatan kali yang
memberikan kegunaan analisis GC-nya.
Kromatografi gas yang pada prinsipnya sama dengan kromatografi
kolom (serta yang lainnya bentuk kromatografi, seperti HPLC, TLC), tapi
memiliki beberapa perbedaan penting. Pertama, proses memisahkan compounds dalam
campuran dilakukan antara stationary fase cair dan gas fase bergerak, sedangkan
pada kromatografi kolom yang seimbang adalah tahap yang solid dan bergerak
adalah fase cair. (Jadi, nama lengkap prosedur adalah "kromatografi
gas-cair", merujuk ke ponsel dan stationary tahapan, masing-masing.)
Kedua, melalui kolom yang lolos tahap gas terletak di sebuah oven dimana
temperatur gas yang dapat dikontrol, sedangkan kromatografi kolom (biasanya)
tidak memiliki kontrol seperti suhu. Ketiga, konsentrasi yang majemuk dalam
fase gas adalah hanya salah satu fungsi dari tekanan uap dari gas.
Kromatografi gas juga mirip dengan pecahan
penyulingan, karena kedua proses memisahkan komponen dari campuran terutama
berdasarkan titik didih (atau tekanan uap) perbedaan. Namun, pecahan
penyulingan biasanya digunakan untuk memisahkan komponen campuran pada skala
besar, sedangkan GC dapat digunakan pada skala yang lebih kecil (yakni
microscale).
Kromatografi gas terkadang juga dikenal sebagai
uap-tahap kromatografi (VPC), atau gas-cair kromatografi partisi (GLPC).
Alternatif nama ini, serta masing-masing singkatan, sering ditemukan dalam
literatur ilmiah.
Diagram alir kromatografi gas-cair
C. Mekanisme kerja GC dan Komponen dalam Kromatografi Gas :
1. Fase
Mobil (Gas Pembawa).
Fasa mobil (gas pembawa) dipasok dari tanki melalui pengaturan
pengurangan tekanan. Kemudian membawa cuplikan langsung ke dalam kolom. Jika
hal ini terjadi, cuplikan tidak menyebar sebelum proses pemisahan. Cara ini
cocok untuk cuplikan yang mudah menyerap.
Gas pembawa ini harus bersifat inert dan harus sangat murni.
Seringkali gas pembawa ini harus disaring untuk menahan debu uap air dan
oksigen. Gas sering digunakan adalah N2, H2 He dan Ar.
2.
Injeksi sampel
Sejumlah kecil sampel yang akan dianalisis
diinjeksikan pada mesin menggunakan semprit kecil. Jarum semprit menembus
lempengan karet tebal (Lempengan karet ini disebut septum) yang mana akan
mengubah bentuknya kembali secara otomatis ketika semprit ditarik keluar dari
lempengan karet tersebut.
Injektor berada dalam oven yang mana temperaturnya
dapat dikontrol. Oven tersebut cukup panas sehingga sampel dapat mendidih dan
diangkut ke kolom oleh gas pembawa misalnya helium atau gas lainnya.
Fase bergerak dalam kromatografi ini adalah gas, yang paling lazim
adalah helium, hidrogen, atau nitrogen. Kompenen pilihan gas spembawa terutama
tergantung pada karakteristik detektor. Kromatografi gas komersial biasanya
menyediakan katup pengatur tambahan untuk pengendalian tekanan yang baik pada
inlet kolom. Dekat inlet kolom ada suatu alat dimana sampel-sampel dapat
dimasuukan kedalam aliran gas pembawa. Sampel-sampel tersebut bisa berupa gas
atau cairan yang mudah menguap. Lubang injeksi dipanaskan agar sampel cair teruapkan
dengan cepat.
3. Kolom
Aliran gas selanjutnya menemui kolom yang diletakkan dalam oven
bertemperatur konstan. Ini adalah jantung instrumen tesebut, tempat dimana
proses kromartgrafi dasar berlangsung. Kolom memilki variasi dalam hal ukuran
dan bahan isian. Tabung diisi dengan bahan padat halus dengan luas permukaan
besar yang relatif inert. Padatan iitu sebenarnya hanya sebuah penyangga
mekanik untuk cairan, sebelum diisi kedalam kolom, padatan tersebut
diimpregnasi dengan cairan yang diinginkan yang berpareran sebagai fasa
stasioner sesungguhnya. Cairan ini harus stabil dan nonfolatil pada temperatur
kolom, pemisahan dan harus sesuai untuk
pemisahan tertentu.
Ada dua tipe utama kolom dalam kromatografi
gas-cair. Tipe pertama, Kolom Partisi, berisi bahan
padat inert menyangga lapisan tipis cairan, disebut Chromatography Gas Cair
(GLC); Tipe kedua, Kolom Adsorbsi, berisi partikel penyerap yang umumnya
digunakan untuk analisa gas permanen dan hydrokarbon rendah, biasa disebut
Chromatography Gas Padat (GSC).
Kolom biasanya dibuat dari baja tak berkarat
dengan panjang antara 1 sampai 4 meter, dengan diameter internal sampai 4 mm.
Kolom digulung sehingga dapat disesuakan dengan oven yang terkontrol secara
termostatis.Kolom dipadatkan dengan tanah diatomae, yang merupakan batu yang
sangat berpori. Tanah ini dilapisis dengan cairan bertitik didih tinggi,
biasanya polimer lilin.
· Temperatur
kolom
Temperatur kolom dapat bervariasi antara 50 oC
sampai 250 oC. Temperatur kolom lebih rendah daripada gerbang
injeksi pada oven, sehingga beberapa komponen campuran dapat berkondensasi pada
awal kolom. Kolom memulai pada temperatur rendah dan kemudian terus menerus
menjadi lebih panas dibawah pengawasan komputer saat analisis berlangsung.
· Proses
pemisahan pada kolom
Ada tiga hal yang dapat berlangsung pada molekul
tertentu dalam campuran yang diinjeksikan pada kolom:
· Molekul dapat berkondensasi pada fase diam.
· Molekul dapat larut dalam cairan pada permukaan
fase diam
· Molekul dapat tetap pada fase gas
Dari ketiga kemungkinan
itu, tak satupun yang bersifat permanen.Senyawa yang mempunyai titik didih yang
lebih tinggi dari temperatur kolom secara jelas cenderung akan berkondensasi
pada bagian awal kolom. Namun, beberapa bagian dari senyawa tersebut akan
menguap kembali dengan dengan jalan yang sama seperti air yang menguap saat
udara panas, meskipun temperatur dibawah 1000C. Peluangnya akan
berkondensasi lebih sedikit selama berada didalam kolom.
Sama halnya untuk beberapa
molekul dapat larut dalam fase diam cair. Beberapa senyawa akan lebih mudah
larut dalam cairan dibanding yang lainnya. Senyawa yang lebih mudah larut akan
menghabiskan waktunya untuk diserap pada fase diam: sedangkan senyawa yang suka
larut akan menghabiskan waktunya lebih banyak dalam fase gas.
Proses dimana zat membagi
dirinya menjadi dua pelarut yang tidak bercampurkan karena perbedaan kelarutan,
dimana kelarutan dalam satu pelarut satu lebih mudah dibanding dengan pelarut
lainnya disebut sebagai partisi. Sekarang, anda bisa beralasan untuk
memperdebatkan bahwa gas seperti helium tidak dapat dijelaskan sebagai pelarut.
Tetapi, istilah partisi masih dapat digunakan dalam kromatografi gas-cair.
Substansi antara fase diam
cair dan gas. Beberapa molekul dalam substansi menghabiskan waktu untuk larut
dalam cairan dan beberapa lainnya menghabiskan waktu untuk bergerak
bersama-sama dengan gas.
4. Detektor
Setelah muncul dari kolom itu, aliran gas lewat melalui sis lain
detektor. Maka elusi zat terlarut dari kolom itu mengatur ketidakseimbangan
antaradua sisi detektor yang direkam secara elektrik. Laju aliran gas pembawa
adalah hal yang sangat penting, dan biasanya pengukur aliran untuk itu
tersedia. Secara normal gas-gas yang muncul dialirkan keluar pada tekanan
atmosfir. Karena pekerja laboratorium secara terus menerus terpapar oleh uap
senyawa-senyawa yang terkromatogafi yang mungkin tak baik walaupun kadarnya
biasanya kecil maka ventilasi pada keluaran instrumen harus diperhatikan.
Ketentuan bisa dibuat untuk menjebak zat terlarut yang dipisahkan setelah
muncul dari kolom jika hal ini dibutuhkan untuk penyelidikan lebih lanjut.
Ada beberapa tipe detektor yang biasa digunakan.
Detektor ionisasi nyala dijelaskan pada bagian bawah penjelasan ini, merupakan
detektor yang umum dan lebih mudah untuk dijelaskan daripada detektor
alternatif lainnya.
Detektor ionisasi nyala
Dalam mekanisme reaksi, pembakaran senyawa organik
merupakan hal yang sangat kompleks. Selama proses, sejumlah ion-ion dan elektron-elektron
dihasilkan dalam nyala. Kehadiran ion dan elektron dapat dideteksi.
Seluruh detektor ditutup dalam oven yang lebih
panas dibanding dengan temperatur kolom. Hal itu menghentikan kondensasi dalam
detektor.
Jika tidak terdapat
senyawa organik datang dari kolom, anda hanya memiliki nyala hidrogen yang
terbakar dalam air. Sekarang, anggaplah bahwa satu senyawa dalam campuran anda
analisa mulai masuk ke dalam detektor.
Ketika dibakar, itu akan menghasilkan sejumlah
ion-ion dan elektron-elektron dalam nyala. Ion positif akan beratraksi pada
katoda silinder. Ion-ion negatif dan elektron-elektron akan beratraksi
pancarannya masing-masing yang mana merupakan anoda.Hal ini serupa dengan apa
yang terjadi selama elektrolisis normal.
Pada katoda, ion positif akan mendatangi
elektron-elektron dari katoda dan menjadi netral. Pada anoda, beberapa elektron
dalam nyala akan dipindahkan pada elektroda positif; ion-ion negatif akan
memberikan elektron-elektronnya pada elektroda dan menjadi netral.
Kehilangam elektron-elektron dari satu elektroda
dan perolehan dari elektroda lain, akan menghasilkan aliran elektron-elektron
dalam sirkuit eksternal dari anoda ke katoda. Dengan kata lain, anda akan
memperoleh arus listrik.
Arus yang diperoleh tidak besar, tetapi dapat diperkuat.
Jika senyawa-senyawa organik lebih banyak dalam nyala, maka akan banyak juga
dihasilkan ion-ion, dan dengan demikian akan terjadi arus listrik yang lebih
kuat. Ini adalah pendekatan yang beralasan, khususnya jka anda berbicara
tentang senyawa-senyawa yang serupa, arus yang anda ukur sebanding dengan
jumlah senyawa dalam nyala.
Kekurangan utama dari detektor ini adalah
pengrusakan setiap hasil yang keluar dari kolom sebagaimana yang terdeteksi.
Jika anda akan mengrimkan hasil ke spektrometer massa, misalnya untuk analisa
lanjut, anda tidak dapat menggunakan detektor tipe ini.
5. Pencatat
(Recorder)
Fungsi recorder sebagai alat untuk mencetak hasil percobaan pada
sebuah kertas yang hasilnya disebut kromatogram (kumpulan puncak grafik).
Hasil akan direkam sebagai urutan puncak-puncak;
setiap puncak mewakili satu senyawa dalam campuran yang melalui detektor.
Sepanjang anda mengontrol secara hati-hati kondisi dalam kolom, anda dapat
menggunakan waktu retensi untuk membantu mengidentifikasi senyawa yang
tampak-tentu saja anda atau seseorang lain telah menganalisa senyawa murni dari
berbagai senyawa pada kondisi yang sama.
Area dibawah puncak sebanding dengan jumlah setiap
senyawa yang telah melewati detektor, dan area ini dapat dihitung secara otomatis
melalui komputer yang dihubungkan dengan monitor. Area yang akan diukur tampak
sebagai bagian yang berwarna hijau dalam gambar yang disederhanakan.
Perlu dicatat bahwa tinggi puncak tidak merupakan
masalah, tetapi total area dibawah puncak. Dalam beberapa contoh tertentu,
bagian kiri gambar adalah puncak tertinggi dan memiliki area yang paling luas.
Hal ini tidak selalu merupakan hal seharusnya..
Mungkin saja sejumlah besar satu senyawa dapat
tampak, tetapi dapat terbukti dari kolom dalam jumlah relatif sedikit melalui
jumlah yang lama. Pengukuran area selain tinggi puncak dapat dipergunakan dalam
hal ini.
· Waktu
retensi
Waktu yang digunakan oleh senyawa tertentu untuk
bergerak melalui kolom menuju ke detektor disebut sebagi waktu retensi. Waktu
ini diukur berdasarkan waktu dari saat sampel diinjeksikan pada titik dimana
tampilan menunujukkan tinggi puncak maksimum untuk senyawa itu.
Setiap senyawa memiliki waktu retensi yang
berbeda. Untuk senyawa tertentu, waktu retensi sangat bervariasi dan bergantung
pada: Titik didih senyawa. Senyawa yang mendidih pada temperatur yang lebih
tinggi daripada temperatur kolom, akan menghabiskan hampir seluruh waktunya
untuk berkondensasi sebagai cairan pada awal kolom. Dengan demikian, titik
didih yang tinggi akan memiliki waktu retensi yang lama.
Kelarutan dalam fase cair. Senyawa yang lebih
mudah larut dalam fase cair, akan mempunyai waktu lebih singkat untuk dibawa
oleh gas pembawa.. Kelarutan yang tinggi dalam fase cair berarti memiiki waktu
retensi yang lama.
Temperatur kolom. Temperatur tinggi menyebakan
pergerakan molekul-molekul dalam fase gas; baik karena molekul-molekul lebih
mudah menguap, atau karena energi atraksi yang tinggi cairan dan oleh karena
itu tidak lama tertambatkan. Temperatur kolom yang tinggi mempersingkat waktu
retensi untuk segala sesuatunya di dalam kolom.
Untuk memberikan sampel dan kolom, tidak ada
banyak yang bisa dikerjakan menggunakan titik didih senyawa atau kelarutannya
dalam fase cair, tetapi anda dapat mempunyai pengatur temperatur.
Semakin rendah temperatur kolom semakin baik
pemisahan yang akan anda dapatkan, tetapi akan memakan waktu yang lama untuk
mendapatkan senyawa karena kondensasi yang lama pada bagian awal kolom.
Dengan kata lain, menggunakan temperatur tinggi,
segala sesuatunya akan melalui kolom lebih cepat, tetapi pemisihannya kurang
baik. Jika segala sesuatunya melalui kolom dalam waktu yang sangat singkat,
tidak akan terdapat jarak antara puncak-puncak dalam kromatogram.
Jawabannya dimulai dengan kolom dengan suhu yang
rendah kemudian perlahan-lahan secara teratur temperaturnya dinaikkan.
Pada awalnya, senyawa yang
menghabiskan lebih banyak waktunya dalam fase gas akan melalui kolom secara
cepat dan dapat dideteksi. Dengan adanya sedikit pertambahan temperatur akan
memperjelas perlekatan senyawa. Peningkatan temperatur masih dapat lebih `melekatan`
molekul-molekul fase diam melalui kolom.
D. Penerapan
kromatografi gas
1. Untuk identifikasi senyawa
Dengan suatu kolom tertentu dan dengan
semua fariabelnya seperti temperatur dan laju alir, dikendalikan secara cermat,
waktu retensi atau volume retensi suatu zat terlarut merupakan suatu besaran
dari zat terlarut tersebut, seperti halnya titk didih atau halnya indek bias
adalah besaran. Ini menunjukkan bahwa sifat retensi dapat digunakan untuk
mengetahui suatu senyawa.
2. Analisis kuantitatif
Dengan GC tergantung pada hubungan
antara jumlah suatu zat terlarut dan ukuran dari pita elusi yang dihasilkan.
Secara umum dengan detektor diferensial, ukuran jumlah zat terlarut yang paling
baik adalah luas dibawah pita elusi. Jumlah zat terlarut = faktor kalibrasi x
luas dibawah pita elusi.
Keterbasan GC adalah volatilitas
sampel itu harus mempunyai tekanan uap yang cukup pada temperatur kolom
tersebut, dan ini segera menghilangkan banyak jenis sampel. Suatu perhitungan
yang aktual tidak mungkin dilakukan tetapi harus diperkirakan bahwa sekitar 20%
senyawa kimia yang diketahui kurang cukup volatil.kebanyakan sampel organik
tidak cukup volatil untuk memungkinkan penerapan langsung dari GC.
E. CARA KERJA KROMATOGRAFI GAS
1. Mencuci
jarum suntik dengan aseton dengan mengisi jarum suntik mendepak sepenuhnya dan
aseton limbah ke kertas handuk. Cuci 2-3 kali.
2. Tarik
beberapa sampel Anda ke dalam jarum suntik. Anda mungkin perlu untuk
menghilangkan gelembung udara di dalam tabung suntik oleh plunyer bergerak
cepat ke atas dan ke bawah sementara jarum dalam sampel. Biasanya 1-2 mL sampel
disuntikkan ke dalam GC. Boleh saja memiliki gelembung udara kecil dalam jarum
suntik. Namun, Anda tidak ingin menyuntikkan sebagian besar udara atau puncak
Anda akan terlalu kecil pada tabel perekam.
3. Pastikan
tabel perekam dan diatur ke kecepatan grafik yang sesuai (Arrow A). Mengatur
baseline menggunakan nol pada tabel perekam (Arrow B). Dengan pena di tempat,
menyalakan bagan (Arrow D), pastikan pena ke bawah (yang menandai kertas) dan kertas
bergerak.
4. Menyuntikkan
sampel Anda baik ke kolom A atau kolom B sesuai instruksi. Pegang tingkat jarum
suntik dan mendorong jarum sepenuhnya ke injector. Setelah Anda tidak dapat
lagi melihat jarum, dengan cepat mendorong pendorong dan kemudian tarik jarum
suntik injeksi keluar dari pelabuhan.
Injeksi Catatan : injector sangat panas, jadi berhati-hatilah untuk tidak menyentuh perak disk. Jarum akan melewati septum karet, sehingga Anda akan merasa beberapa perlawanan. Untuk beberapa GC kita itu, kolom tidak menyelaraskan benar dalam injector, sehingga jarum hits bagian depan kolom logam. Jika Anda merasa bahwa Anda mendorong terhadap logam, menarik jarum keluar dari injector dan coba lagi, mungkin di sudut yang sedikit berbeda. Jarum harus benar-benar menghilang ke dalam injeksi untuk injeksi yang tepat sampel ke kolom GC.Suntikkan dengan cepat untuk hasil terbaik. Jangan ragu untuk menyuntikkan jarum setelah benar diposisikan di pelabuhan injeksi.Lepaskan jarum suntik segera setelah injeksi. (Pelaksanaan catatan C dan D membantu untuk memastikan bahwa semua sampel memasuki GC kolom di sekitar waktu yang sama.)
Injeksi Catatan : injector sangat panas, jadi berhati-hatilah untuk tidak menyentuh perak disk. Jarum akan melewati septum karet, sehingga Anda akan merasa beberapa perlawanan. Untuk beberapa GC kita itu, kolom tidak menyelaraskan benar dalam injector, sehingga jarum hits bagian depan kolom logam. Jika Anda merasa bahwa Anda mendorong terhadap logam, menarik jarum keluar dari injector dan coba lagi, mungkin di sudut yang sedikit berbeda. Jarum harus benar-benar menghilang ke dalam injeksi untuk injeksi yang tepat sampel ke kolom GC.Suntikkan dengan cepat untuk hasil terbaik. Jangan ragu untuk menyuntikkan jarum setelah benar diposisikan di pelabuhan injeksi.Lepaskan jarum suntik segera setelah injeksi. (Pelaksanaan catatan C dan D membantu untuk memastikan bahwa semua sampel memasuki GC kolom di sekitar waktu yang sama.)
5. Menandai
waktu injeksi Anda pada tabel perekam. Ini dapat dilakukan dengan menyesuaikan
nol tepat setelah sampel disuntikkan. Hal ini sering nyaman bagi satu orang
untuk menyuntikkan sampel sementara pasangan laboratorium menandai waktu
injeksi di bagan perekam.
6. Bersihkan
jarum suntik Anda segera setelah injeksi. Jarum suntik sering tersumbat dengan
cepat dan harus diganti jika mereka tidak dibersihkan setelah setiap
penggunaan.
7. Catatan
pengaturan perekam grafik Anda selama berjalan. Anda perlu mengetahui kecepatan
grafik dan pengaturan skala penuh.
8. Catatan
pengaturan GC selama Anda berlari. Sebuah tombol di bagian tengah bawah GC
dapat diubah untuk membaca kolom (atau oven) suhu, suhu detektor dan suhu
injektor pelabuhan dalam ° C. Jembatan saat ini ditampilkan dalam mA.
Perhatikan bahwa ada dua skala pada layar. Berhati-hati untuk membaca skala
yang tepat!
F. SAMPEL YANG DAPAT DIANALISIS DENGAN GC
Sampel yang dapat dianalisis dengan GC diantaranya adalah :
1. Produk Gas Alam
2. Kemurnian Pelarut
3. Asam Lemak
4. Residu Pestisida
5. Polusi Udara
6. Alkohol
7. Steroid
8. Minyak Atsiri
9. Flavor
10. Ganja
(mariyuana)
G. APLIKASI KROMATOGRAFI GAS
Kromatografi gas telah digunakan pada sejumlah besar senyawa-senyawa
dalam berbagai bidang. Dalam senyawa organic dan anorganik, senyawa logam,
karena persyaratan yang digunakan adalah tekanan uap yang cocok pada suhu saat
analisa dilakukan. Berikut beberapa kegunaan kromatografi gas pada
bidang-bidangmya adalah :
1.
Polusi udara
Kromatografi gas merupakan alat yang penting
karena daya pemisahan yang digabungkan dengan daya sensitivitas dan pemilihan
detector GLC menjadi alat yang ideal untuk menentukan banyak senyawa yang
terdapat dalam udara yang kotor, KGCdipakai untuk menetukan Alkil-Alkil Timbal,
Hidrokarbon, aldehid, keton SO , H S, dan beberapa oksida dari nitrogen dll.
2.
Klinik
Diklinik kromatografi gas menjadi alat untuk
menangani senyawa-senyawa dalam klinik seperti : asam-asam amino, karbohidrat,
CO , dan O dalam darah, asam-asam lemak dan turunannya,
trigliserida-trigliserida, plasma steroid, barbiturate, dan vitamin
3.
Bahan-bahan pelapis
Digunakan untuk menganalisa polimer-polimer
setelah dipirolisa, karet dan resin-resin sintesis.
4.
Minyak atsiri
Digunakan untuk pengujian kulaitas terhadap
minyak permen, jeruk sitrat, dll.
5.
Bahan makanan
Digunakan dengan TLC dan kolom-kolom, untuk
mempelajari pemalsuanatau pencampuran, kontaminasi dan pembungkusan dengan
plastic pada bahan makanan, juga dapat dipakai unutk menguji jus, aspirin, kopi
dll.
6.
Sisa-sisa peptisida
KGC dengan detector yang sensitive dapat
menentukan atau pengontrolan sisa-sisa peptisida yang diantaranya senyawa yang
mengandung halogen, belerang, nitrogen, dan fosfor.
7.
Perminyakan
Kromatografi gas dapat digunakan unutk
memisahkan dan mengidentifikasi hasil-hasildari gas-gas hidrokarbon yang
ringan.
8.
Bidang farmasi dan obat-obatan
Kromatografi gas digunakan dalam
pengontrolan kualitas, analisa hasil-hasilbaru dalam pengamatan metabolisme
dalam zat-zatalir biologi
9.
Bidang kimia/ penelitian
Digunakan untuk menentukan lama reaksi pada
pengujian kemurnian hasil.
H. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KROMATOGRAFI GAS
·
Kelebihan
1.
Waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan
yang tinggal.
2.
Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk
menghasilkan efisiensi pemisahan yang tinggi.
3.
Gas mempunyai vikositas yang rendah.
4.
Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung
cepat sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya tinggi.
5.
Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari
sejumlah fase diam yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir segala macam
campuran.
·
Kekurangan
1.
Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah
menguap
2.
Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan
campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan,
pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi pemisahan dalam tingkat
pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika ada metode lain.
3.
Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak
bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.
GC
(Gas Chromatography) yang biasa disebut juga Kromatografi gas (KG)
merupakan teknik instrumental yang dikenalkan pertama kali pada tahun
1950-an. GC merupakan metode yang dinamis untuk pemisahan dan deteksi
senyawa-senyawa organik yang mudah menguap dan senyawa-senyawa gas anorganik
dalam suatu campuran Perkembangan teknologi yang signifikan dalam bidang
elektronik, komputer, dan kolom telah menghasilkan batas deteksi yang lebih
rendah serta identifikasi senyawa menjadi lebih akurat melalui teknik analisis
dengan resolusi yang meningkat. (3)
GC menggunakan
gas sebagai gas pembawa/fase geraknya.
Ada 2 jenis kromatografi gas, yaitu :
Ada 2 jenis kromatografi gas, yaitu :
- Kromatografi gas–cair (KGC) yang fase diamnya berupa cairan yang diikatkan pada suatu pendukung sehingga solut akan terlarut dalam fase diam.
- Kromatografi gas-padat (KGP), yang fase diamnya berupa padatan dan kadang-kadang berupa polimerik.(4)
SISTEM PERALATAN KROMATOGRAFI GAS (GC)
1.
Kontrol dan penyedia gas pembawa;
2.
ruang suntik sampel;
3.
kolom yang diletakkan dalam oven yang dikontrol secara termostatik;
4.
sistem deteksi dan pencatat (detektor dan recorder); serta
5.
komputer yang dilengkapi dengan perangkat pengolah data.
1. Fase gerak
Fase
gerak pada GC juga disebut dengan gas pembawa karena tujuan awalnya adalah
untuk membawa solut ke kolom, karenanya gas pembawa tidak berpengaruh pada
selektifitas. Syarat gas pembawa adalah: tidak reaktif; murni/kering karena
kalau tidak murni akan berpengaruh pada detektor; dan dapat disimpan dalam
tangki tekanan tinggi (biasanya merah untuk hidrogen, dan abu-abu untuk
nitrogen) 4).
2. Ruang suntik sampel
Lubang
injeksi didesain untuk memasukkan sampel ecara cepat dan efisien. Desain yang
populer terdiri atas saluran gelas yang kecil atau tabung logam yang dilengkapi
dengan septum karet pada satu ujung untuk mengakomodasi injeksi dengan semprit
(syringe). Karena helium (gas pembawa) mengalir melalui tabung, sejumlah volume
cairan yang diinjeksikan (biasanya antara 0,1-3,0 μL) akan segera diuapkan
untuk selanjutnya di bawa menuju kolom. Berbagai macam ukuran semprit saat ini
tersedia di pasaan sehingga injeksi dapat berlangsung secara mudah dan akurat.
Septum karet, setelah dilakukan pemasukan sampel secara berulang, dapat diganti
dengan mudah. Sistem pemasukan sampel (katup untuk mengambil sampel gas) dan
untuk sampel padat juga tersedia di pasaran(1).
Pada
dasarnya, ada 4 jenis injektor pada kromatografi gas, yaitu:
a.
Injeksi langsung (direct injection), yang mana sampel yang diinjeksikan akan
diuapkan dalam injector yang panas dan 100 % sampel masuk menuju kolom.
b.
Injeksi terpecah (split injection), yang mana sampel yang diinjeksikan diuapkan
dalam injector yang panas dan selanjutnya dilakukan pemecahan.
c.
Injeksi tanpa pemecahan (splitness injection), yang mana hampir semua sampel
diuapkan dalam injector yang panas dan dibawa ke dalam kolom karena katup
pemecah ditutup; dan
d.
Injeksi langsung ke kolom (on column injection), yang mana ujung semprit
dimasukkan langsung ke dalam kolom.
Teknik
injeksi langsung ke dalam kolom digunakan untuk senyawa-senyawa yang mudah
menguap; karena kalau penyuntikannya melalui lubang suntik secara langsung
dikhawatirkan akan terjadi peruraian senyawa tersebut karena suhu yang tinggi
atau pirolisis(2).
3. Kolom
Kolom
merupakan tempat terjadinya proses pemisahan karena di dalamnya terdapat fase
diam. Oleh karena itu, kolom merupakan komponen sentral pada GC.
Ada
3 jenis kolom pada GC yaitu kolom kemas (packing column) dan kolom kapiler
(capillary column); dan kolom preparative (preparative column). Perbandingan
kolom kemas dan kolom kapiler dtunjukkan oleh gambar berikut :
|
|
|
Kolom
Kemas
Kolom Kapiler
|
Kolom
kemas terbuat dari gelas atau logam yang tahan karat atau dari tembaga dan
aluminium. Panjang kolom jenis ini adalah 1–5 meter dengan diameter dalam 1-4
mm. Kolom kapiler sangat banyak dipakai karena kolom kapiler
memberikanefisiensi yang tinggi (harga jumlah pelat teori yang sangat besar
> 300.000 pelat). Kolom preparatif digunakan untuk menyiapkan sampel yang
murni dari adanya senyawa tertentu dalam matriks yang kompleks.
Fase
diam yang dipakai pada kolom kapiler dapat bersifat non polar, polar, atau semi
polar. Fase diam non polar yang paling banyak digunakan adalah metil
polisiloksan (HP-1; DB-1; SE-30; CPSIL-5) dan fenil 5%-metilpolisiloksan 95%
(HP-5; DB-5; SE-52; CPSIL-8). Fase diam semi polar adalah seperti fenil
50%-metilpolisiloksan 50% (HP-17; DB-17; CPSIL-19), sementara itu fase diam
yang polar adalah seperti polietilen glikol (HP-20M; DB-WAX; CP-WAX;
Carbowax-20M) (6).
4. Detektor
Komponen
utama selanjutnya dalam kromatografi gas adalah detektor. Detektor merupakan
perangkat yang diletakkan pada ujung kolom tempat keluar fase gerak (gas
pembawa) yang membawa komponen hasil pemisahan. Detektor pada kromatografi
adalah suatu sensor elektronik yang berfungsi mengubah sinyal gas pembawa dan
komponen-komponen di dalamnya menjadi sinyal elektronik. Sinyal elektronik
detektor akan sangat berguna untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif
terhadap komponen-komponen yang terpisah di antara fase diam dan fase gerak.
Pada
garis besarnya detektor pada KG termasuk detektor diferensial, dalam arti
respons yang keluar dari detektor memberikan relasi yang linier dengan kadar
atau laju aliran massa komponen yang teresolusi. Kromatogram yang merupakan
hasil pemisahan fisik komponen-komponen oleh GC disajikan oleh detektor
sebagai deretan luas puncak terhadap waktu. Waktu tambat tertentu dalam
kromatogram dapat digunakan sebagai data kualitatif, sedangkan luas puncak
dalam kromatogram dapat dipakai sebagai data kuantitatif yang keduanya telah
dikonfirmasikan dengan senyawa baku. Akan tetapi apabila kromatografi gas
digabung dengan instrumen yang multipleks misalnya GC/FT-IR/MS, kromatogram
akan disajikan dalam bentuk lain.
Beberapa sifat detektor yang digunakan dalam kromatografi gas adalah sebagai berikut :
|
Jenis Detektor
|
Jenis Sampel
|
Batas Deteksi
|
Kecepatan Alir (ml/menit)
|
||
|
Gas Pembawa
|
H2
|
Udara
|
|||
|
Hantaran panas
|
Senyawa umum
|
5-100 ng
|
15-30
|
-
|
-
|
|
Ionisasi nyawa
|
Hidrokarbon
|
10-100 pg
|
20-60
|
30-60
|
200-500
|
|
Penangkap elektron
|
Halogen organic, pestisida
|
0,05-1 pg
|
30-60
|
-
|
-
|
|
Nitrogen-fosfor
|
Senyawa nitrogen organik dan fospat organic
|
0,1-10 g
|
20-40
|
1-5
|
700-100
|
|
Fotometri nyala (393 nm)
|
Senyawa-senyawa sulfur
|
10-100 pg
|
20-40
|
50-70
|
60-80
|
|
Fotometri nyala (526 nm)
|
Senyawa-senyawa fosfor
|
1-10 pg
|
20-40
|
120-170
|
100-150
|
|
Foto ionisasi
|
Senyawa yang terionisasi dg UV
|
2 pg C/detik
|
30-40
|
-
|
-
|
|
Konduktivitas elektrolitik
|
Halogen, N, S
|
0,5 pg C
12 pg S
4 pg N
|
20-40
|
80
|
-
|
|
Fourier Transform-inframerah (FTIR)
|
Senyawa-senyawa organik
|
1000 pg
|
3-10
|
-
|
-
|
|
Selektif massa
|
Sesuai untuk senyawa apapun
|
10 pg-10 ng
|
0,5-30
|
-
|
-
|
|
Emisi atom
|
Sesuai untuk elemen apapun
|
0,1-20 pg
|
60-70
|
-
|
|
5. Komputer
Komponen GC
selanjutnya adalah komputer. GC modern menggunakan komputer yang
dilengkapi dengan perangkat lunaknya (software) untuk digitalisasi signal
detektor dan mempunyai beberapa fungsi antara lain:
- Memfasilitasi setting parameter-parameter instrumen seperti: aliran fase gas; suhu oven dan pemrograman suhu; serta penyuntikan sampel secara otomatis.
- Menampilkan kromatogram dan informasi-informasi lain dengan menggunakan grafik berwarna.
- Merekam data kalibrasi, retensi, serta perhitungan-perhitungan dengan statistik.
- Menyimpan data parameter analisis untuk analisis senyawa tertentu(4).
DERIVATISASI
Derivatisasi merupakan proses kimiawi untuk mengubah suatu senyawa menjadi senyawa lain yang mempunyai sifat-sifat yang sesuai untuk dilakukan analisis menggunakan kromatografi gas (menjadi lebih mudah menguap). Alasan dilakukannya derivatisasi:
Derivatisasi merupakan proses kimiawi untuk mengubah suatu senyawa menjadi senyawa lain yang mempunyai sifat-sifat yang sesuai untuk dilakukan analisis menggunakan kromatografi gas (menjadi lebih mudah menguap). Alasan dilakukannya derivatisasi:
- Senyawa-senyawa tersebut tidak memungkinkan dilakukan analisis dengan GC terkait dengan volatilitas dan stabilitasnya.
- Untuk meningkatkan batas deteksi dan bentuk kromatogram. Beberapa senyawa tidak menghasilkan bentuk kromatogram yang bagus (misal puncak kromatogram saling tumpang tindih) atau sampel yang dituju tidak terdeteksi, karenanya diperlukan derivatisasi sebelum dilakukan analisis dengan GC.
- Meningkatkan volatilitas, misal senyawa gula. Tujuan utama derivatisasi adalah untuk meningkatkan volatilitas senyawa-senyawa yang tidak mudah menguap (non-volatil). Senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah biasanya tidak mudah menguap karena adanya gaya tarik-menarik inter molekuler antara gugus-gusug polar karenanya jika gugus-gugus polar ini ditutup dengan cara derivatisasi akan mampu meningkatkan volatilitas senyawa tersebut secara dramatis.
- Meningkatkan deteksi, misal untuk kolesterol dan senyawa-senyawa steroid.
- Meningkatkan stabilitas. Beberapa senyawa volatil mengalami dekomposisi parsial karena panas sehingga diperlukan derivatisasi untuk meningkatkan stabilitasnya.
- Meningkatkan batas deteksi pada penggunaan detektor tangkap elektron (ECD).
Inilah contoh
derivatisasi yang digunakan untuk memperbaiki bentuk puncak pseudoefedrin:
Caranya
:
Sirup dekongestan dibasakan dengan amonia dan diekstraksi ke dalam etil asetat sehingga akan menjamin bahwa semua komponen yang terekstraksi berada dalam bentuk basa bebasnya daripada bentuk garamnya. Bentuk basa inilah yang bertanggungjawab pada bagusnya bentuk puncak kromatografi. Garam-garam atau basa-basa akan terurai karena adanya panas pada lubang suntik GC, sehingga dengan adanya proses ini akan dapat menyebabkan terjadinya peruraian.
Jika ekstrak pada sirup dekongestan di lakukan kromatografi gas secara langsung maka kromatogram yang dihasilkan seperti gambar dibawah. Basa bebas triprolidin dan dekstrometorfan menunjukkan bentuk puncak yang bagus, akan tetapi pesudoefedrin yang merupakan basa yang lebih kuat karena adanya gugus hidroksil dan gugus amin memberikan bentuk puncak yang kurang bagus. Hal ini dapat diatasi dengan menutup gugus polar (gugus hidroksi dan amin) pada pseudoefedrin dengan cara mereaksikannya menggunakan trifluoroasetat anhidrida (TFA). Perlakuan dengan TFA ini tidak menghasilkan senyawa derivatif terhadap senyawa-senyawa basa tersier dalam ekstrak (sirup dekongestan) ini. Reagen TFA ini sangat bermanfaat karena reagen ini sangat reaktif dan bertitik didih rendah (400C) sehingga kelebihan reagen TFA ini mudah dihilangkan dengan cara evaporasi sebelum dilakukan kromatografi gas.
Ini kromatogram sebelum dilakukan derivatisasi......
Sirup dekongestan dibasakan dengan amonia dan diekstraksi ke dalam etil asetat sehingga akan menjamin bahwa semua komponen yang terekstraksi berada dalam bentuk basa bebasnya daripada bentuk garamnya. Bentuk basa inilah yang bertanggungjawab pada bagusnya bentuk puncak kromatografi. Garam-garam atau basa-basa akan terurai karena adanya panas pada lubang suntik GC, sehingga dengan adanya proses ini akan dapat menyebabkan terjadinya peruraian.
Jika ekstrak pada sirup dekongestan di lakukan kromatografi gas secara langsung maka kromatogram yang dihasilkan seperti gambar dibawah. Basa bebas triprolidin dan dekstrometorfan menunjukkan bentuk puncak yang bagus, akan tetapi pesudoefedrin yang merupakan basa yang lebih kuat karena adanya gugus hidroksil dan gugus amin memberikan bentuk puncak yang kurang bagus. Hal ini dapat diatasi dengan menutup gugus polar (gugus hidroksi dan amin) pada pseudoefedrin dengan cara mereaksikannya menggunakan trifluoroasetat anhidrida (TFA). Perlakuan dengan TFA ini tidak menghasilkan senyawa derivatif terhadap senyawa-senyawa basa tersier dalam ekstrak (sirup dekongestan) ini. Reagen TFA ini sangat bermanfaat karena reagen ini sangat reaktif dan bertitik didih rendah (400C) sehingga kelebihan reagen TFA ini mudah dihilangkan dengan cara evaporasi sebelum dilakukan kromatografi gas.
Ini kromatogram sebelum dilakukan derivatisasi......
Yang
ini kromatogram sesudah derivatisasi......
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Kromatografi adalah cara pemisahan
campuran yang didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen campuran
tersebut diantaranya dua fase, yaitu fase diam (stationary) dan fase bergerak
(mobile). Fase diam dapat berupa zat padat atau zat cair, sedangkan fase
bergerak dapat berupa zat cair atau gas. Dalam kromatografi fase bergerak dapat
berupa gas atau zat cair dan fase diam dapat berupa zat padat atau zat cair.
Banyaknya macam-macam kromatografi
yang salah satunya adalah kromatografi gas, yang merupaka metode kromatografi
pertama yang dikembangkan pada zaman instrumen dan elektronika. Kromatografi
gas dapat dipakai untuk setiap campuran dimana semua komponennya mempunyai
tekanan uap yang berarti, suhu tekanan uap yang dipakai untuk proses pemisahan.
Tekanan uap memungkinkan komponen menguap dan bergerak bersama-sama dengan fase
gerak yang berupa gas.
Kromatografi gas metode yang tepat
dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan
beragam, mulai dari beberapa detik untuk campuran yang sederhana sampai
berjam-jam untuk campuran yang mengandung 500-1000 komponen.
Metode ini sangat baik untuk
analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti hidrokarbon dan eter.
Analisis minyak mentah dan tekanan uap dalam buah telah dengan sukses dilakukan
dengan tehnik ini.
Efisien pemisahan ditentukan
ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel dan cairan, dengan
menggunakan fase cair standar yang diketahui efektif untuk berbagai senyawa.
Kromatografi gas sendiri terdiri
dari 2 yaitu kromatografi gas cairan dengan mekanisme pemisahan partisi, teknik
kolom dan nama alat GLC dan kromatografi gas padat dengan mekanisme pemisahan
absorbsi, teknik kolom dan nama alat GSC. Namun GSC jarang digunakan sehingga
pada umumnya yang disebut dengan GC saat ini adalah GLC.
Pada prinsipnya pemisahan dalam GC
adalah sisebabkan oleh perbedaan dalam kemampuan distribusi analit diantara
fase gerak dan fase diam di dalam kolom pada kecepatan dan waktu yang berbeda.
1.2.RUMUSAN MASALAH
- Apa yang dimaksud dengan kromatografi gas ?
- Apa prinsip dari kromatografi gas ?
- Bagaimana cara kerja kromatografi gas ?
- Apa kelebihan dan kelemahan kromatografi gas ?
1.3.TUJUAN
- Untuk mempermudah proses belajar Dasar-Dasar Pemisahan Analitik terutama Kromatografi.
- Untuk mengetahui cara pemisahan campuran berdasarkan metode kromatografi gas.
- Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia Dasar II.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.DEFINISI DAN TEORI KROMATOGRAFI
GAS
Kromatografi Gas adalah proses
pemisahan campuran menjadi komponen-komponennya dengan menggunakan gas sebagai
fase bergerak yang melewati suatu lapisan serapan (sorben) yang diam.
Kromatografi gas fase gerak dan fase
diamnya diantaranya :
- Fase gerak adalah gas dan zat terlarut terpisah sebagai uap. Pemisahan tercapai dengan partisi sampel antara fase gas bergerak
- Fase diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat pada zat padat penunjangnya
Kromatografi gas termasuk dalam
salah satu alat analisa (analisa kualitatif dan analisa kuantitatif),
kromatografi gas dijajarkan sebagai cara analisa yang dapat digunakan untuk
menganalisa senyawa-senyawa organic. Kita telah mengetahui bahwa ada dua jenis
kromatografi gas, yatiu kromatografi gas padat (KGP), dan kromatografi gas cair
(KGC). Dalam kedua hal ini sebagai fasa bergerak adalah gas (hingga keduanya
disebut kromatografi gas), tetapi fasa diamnya berbeda. Meskipun kedua cara
tersebut mempunyai banya persamaan. Perbedaan antara kedunya hanya tentang cara
kerja.
Pada kromatografi gas padat (KGP)
terdapat adsorbsi dan pada kromatografi gas cair (KGC) terdapat partisi
(larutan). Kromatografi gas padat (KGP) digunakan sebelum tahun 1800 untuk
memurnikan gas. Metode ini awalnya kurang berkembang. Penemuan jenis-jenis
padatan baru sebagi hasil riset memperluas penggunaan metode ini. Kelemahan
metode ini mirip dengan kromatografi cair padat. Sedangkan kromatografi gas
cair sering disebut oleh para pakar kimia organic sebagai kromatografi fasa
uap. Pertama kali dikenalkan oleh James dan Martin pada tahun 1952. metode ini
paling banyak digunakan karena efisien, serba guna, cepat dan peka. Cuplikan
dengan ukuran beberapa microgram sampel dengan ukuran 10 gram masih dapat
dideteksi. Komponen cuplikan harus mempunyai tekanan beberapa torr pada suhu
kolom.
2.2.PRINSIP KERJA
Kromatografi gas mempunyai prinsip
yang sama dengan kromatografi lainnya, tapi memiliki beberapa perbedaan
misalnya proses pemisahan campuran dilakukan antara stasionary fase cair dan
gas fase gerak dan pada oven temperur gas dapat dikontrol sedangkan pada
kromatografi kolom hanya pada tahap fase cair dan temperatur tidak dimiliki.
Secara rinci prinsip kromatografi
adalah udara dilewatkan melalui nyala hydrogen (hydrogen flame) selanjutnya uap
organik tersebut akan terionisasi dan menginduksi terjadinya aliran
listrik pada detektor, kuantitas aliran listrik sebanding dengan ion.
2.3. RANCANGAN KROMATOGRAFI GAS
Kromatografi gas terdiri dari
beberapa alat diantaranya :
1.Fase Mobil (Gas Pembawa).
Fasa mobil (gas pembawa) dipasok
dari tanki melalui pengaturan pengurangan tekanan. Kemudian membawa cuplikan
langsung ke dalam kolom. Jika hal ini terjadi, cuplikan tidak menyebar sebelum
proses pemisahan. Cara ini cocok untuk cuplikan yang mudah menyerap.
Gas pembawa ini harus bersifat inert
dan harus sangat murni. Seringkali gas pembawa ini harus disaring untuk menahan
debu uap air dan oksigen. Gas sering digunakan adalah N2, H2 He dan Ar.
2.Sistem Injeksi Sampel
Sampel dimasukkan ke dalam aliran
gas, jika sampel berupa cairan harus diencerkan terlebih dahulu dalam bentuk
larutan. Injeksi sampel dapat diambil dengan karet silicon ke dalam oven,
banyak sampel + 0,1-10 ml.
3.Kolom
Fungsi kolom merupakan ”jantung”
kromatografi gas dimana terjadi pemisahan komponen-komponen cuplikan kolom
terbuat dari baja tahan karat, nikel, kaca.
Merupakan jantung Chromatography,
dimana pemisahan komponen cuplikan terjadi yang berwujud puncak-puncak yang
disebut Chromatogram
Faktor yang berkaitan dengan
keterpisahan puncak Chromatography adalah keefisienan kolom dan keefisienan
pelarut.
Ada dua type kolom :
- Kolom Partisi, berisi bahan padat inert menyangga lapisan tipis cairan, disebut Chromatography Gas Cair (GLC)
- Kolom Adsorbsi, berisi partikel penyerap yang umumnya digunakan untuk analisa gas permanen dan hydrokarbon rendah, biasa disebut Chromatography Gas Padat (GSC)
4.Detektor
Fungsi detektor untuk memonitor gas
pembawa yang keluar dari kolom dan merespon perubahan komposisi yang terelusi.
Merupakan suatu gawai yang
menunjukan dan mengukur banyaknya komponen yang terpisah dalam gas pembawa.Suhu
detector harus panas agar cuplikan tak mengembun.
Pelebaran puncak dan menghilangnya puncak
komponen merupakan ciri khas terjadinya pengembunan.
Seluruh detektor ditutup dalam oven
yang lebih panas dibanding dengan temperatur kolom. Hal itu menghentikan
kondensasi dalam detektor (pada FID).
5.Pencatat (Recorder)
Fungsi recorder sebagai alat untuk
mencetak hasil percobaan pada sebuah kertas yang hasilnya disebut kromatogram
(kumpulan puncak grafik).
2.4.CARA KERJA KROMATOGRAFI GAS
- Mencuci jarum suntik dengan aseton dengan mengisi jarum suntik mendepak sepenuhnya dan aseton limbah ke kertas handuk. Cuci 2-3 kali.
- Tarik beberapa sampel Anda ke dalam jarum suntik. Anda mungkin perlu untuk menghilangkan gelembung udara di dalam tabung suntik oleh plunyer bergerak cepat ke atas dan ke bawah sementara jarum dalam sampel. Biasanya 1-2 mL sampel disuntikkan ke dalam GC. Boleh saja memiliki gelembung udara kecil dalam jarum suntik. Namun, Anda tidak ingin menyuntikkan sebagian besar udara atau puncak Anda akan terlalu kecil pada tabel perekam.
- Pastikan tabel perekam dan diatur ke kecepatan grafik yang sesuai (Arrow A). Mengatur baseline menggunakan nol pada tabel perekam (Arrow B). Dengan pena di tempat, menyalakan bagan (Arrow D), pastikan pena ke bawah (yang menandai kertas) dan kertas bergerak.
- Menyuntikkan
sampel Anda baik ke kolom A atau kolom B sesuai instruksi. Pegang tingkat
jarum suntik dan mendorong jarum sepenuhnya ke injector. Setelah Anda
tidak dapat lagi melihat jarum, dengan cepat mendorong pendorong dan
kemudian tarik jarum suntik injeksi keluar dari pelabuhan.
Injeksi Catatan:
injector sangat panas, jadi berhati-hatilah untuk tidak menyentuh perak disk.
Jarum akan melewati septum karet, sehingga Anda akan merasa beberapa perlawanan. Untuk beberapa GC kita itu, kolom tidak menyelaraskan benar dalam injector, sehingga jarum hits bagian depan kolom logam. Jika Anda merasa bahwa Anda mendorong terhadap logam, menarik jarum keluar dari injector dan coba lagi, mungkin di sudut yang sedikit berbeda. Jarum harus benar-benar menghilang ke dalam injeksi untuk injeksi yang tepat sampel ke kolom GC.Suntikkan dengan cepat untuk hasil terbaik. Jangan ragu untuk menyuntikkan jarum setelah benar diposisikan di pelabuhan injeksi.Lepaskan jarum suntik segera setelah injeksi. (Pelaksanaan catatan C dan D membantu untuk memastikan bahwa semua sampel memasuki GC kolom di sekitar waktu yang sama.) - Menandai waktu injeksi Anda pada tabel perekam. Ini dapat dilakukan dengan menyesuaikan nol tepat setelah sampel disuntikkan. Hal ini sering nyaman bagi satu orang untuk menyuntikkan sampel sementara pasangan laboratorium menandai waktu injeksi di bagan perekam.
- Bersihkan jarum suntik Anda segera setelah injeksi. Jarum suntik sering tersumbat dengan cepat dan harus diganti jika mereka tidak dibersihkan setelah setiap penggunaan.
- Catatan pengaturan perekam grafik Anda selama berjalan. Anda perlu mengetahui kecepatan grafik dan pengaturan skala penuh.
- Catatan pengaturan GC selama Anda berlari. Sebuah tombol di bagian tengah bawah GC dapat diubah untuk membaca kolom (atau oven) suhu, suhu detektor dan suhu injektor pelabuhan dalam ° C. Jembatan saat ini ditampilkan dalam mA. Perhatikan bahwa ada dua skala pada layar. Berhati-hati untuk membaca skala yang tepat!
2.5.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
KROMATOGRAFI GAS
Kelebihan
1.Waktu analisis yang singkat dan
ketajaman pemisahan yang tinggal.
2.Dapat menggunakan kolom lebih
panjang untuk menghasilkan efisiensi pemisahan yang tinggi.
3.Gas mempunyai vikositas yang
rendah.
4.Kesetimbangan partisi antara gas
dan cairan berlangsung cepat sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya
tinggi.
5.Pemakaian fase cair memungkinkan
kita memilih dari sejumlah fase diam yang sangat beragam yang akan memisahkan
hampir segala macam campuran.
Kekurangan
1.Teknik Kromatografi gas terbatas
untuk zat yang mudah menguap
2.Kromatografi gas tidak mudah
dipakai untuk memisahkan campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg
mudah dilakukan, pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi
pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika ada metode
lain.
3.Fase gas dibandingkan sebagian
besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.
2.6. SAMPEL YANG DAPAT DIANALISIS
DENGAN GC
1.Produk Gas Alam
2.Kemurnian Pelarut
3.Asam Lemak
4.Residu Pestisida
5.Polusi Udara
6.Alkohol
7.Steroid
8.Minyak Atsiri
9.Flavor
10.Ganja (mariyuana)
2.7.APLIKASI KROMATOGRAFI GAS
Kromatografi gas telah digunakan
pada sejumlah besar senyawa-senyawa dalam berbagai bidang. Dalam senyawa
organic dan anorganik, senyawa logam, karena persyaratan yang digunakan adalah
tekanan uap yang cocok pada suhu saat analisa dilakukan. Berikut beberapa
kegunaan kromatografi gas pada bidang-bidangmya adalah :
1.Polusi udara
Kromatografi gas merupakan alat yang
penting karena daya pemisahan yang digabungkan dengan daya sensitivitas dan
pemilihan detector GLC menjadi alat yang ideal untuk menentukan banyak senyawa
yang terdapat dalam udara yang kotor, KGCdipakai untuk menetukan Alkil-Alkil
Timbal, Hidrokarbon, aldehid, keton SO , H S, dan beberapa oksida dari nitrogen
dll.
2.Klinik
Diklinik kromatografi gas menjadi
alat untuk menangani senyawa-senyawa dalam klinik seperti : asam-asam amino,
karbohidrat, CO , dan O dalam darah, asam-asam lemak dan turunannya,
trigliserida-trigliserida, plasma steroid, barbiturate, dan vitamin
3.Bahan-bahan pelapis
Digunakan untuk menganalisa
polimer-polimer setelah dipirolisa, karet dan resin-resin sintesis.
4.Minyak atsiri
Digunakan untuk pengujian kulaitas
terhadap minyak permen, jeruk sitrat, dll.
5.Bahan makanan
Digunakan dengan TLC dan kolom-kolom,
untuk mempelajari pemalsuanatau pencampuran, kontaminasi dan pembungkusan
dengan plastic pada bahan makanan, juga dapat dipakai unutk menguji jus,
aspirin, kopi dll.
6.Sisa-sisa peptisida
KGC dengan detector yang sensitive
dapat menentukan atau pengontrolan sisa-sisa peptisida yang diantaranya senyawa
yang mengandung halogen, belerang, nitrogen, dan fosfor.
7.Perminyakan
Kromatografi gas dapat digunakan
unutk memisahkan dan mengidentifikasi hasil-hasildari gas-gas hidrokarbon yang
ringan.
8.Bidang farmasi dan obat-obatan
Kromatografi gas digunakan dalam
pengontrolan kualitas, analisa hasil-hasilbaru dalam pengamatan metabolisme
dalam zat-zatalir biologi
9.Bidang kimia/ penelitian
Digunakan untuk menentukan lama
reaksi pada pengujian kemurnian hasil.
BAB III
PENUTUP
3.1.KESIMPULAN
Kromatografi adalah suatu istilah
umum yang digunakan untuk bermacam-macam teknik pemisahan yang didasarkan atas
partisi sampel diantara suatu fasa gerak yang bisa berupa gas ( kromatografi
gas ) ataupun cair ( kromatografi cair ) dan fasa diam yang juga bisa berupa
cairan ataupun suatu padatan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan polaritas
dari fasa diam dan gerak.
Ada dua jenis kromatografi gas,
yatiu kromatografi gas padat (KGP), dan kromatografi gas cair (KGC).
Kromatografi gas terdiri dari
beberapa alat diantaranya :
•Fase Mobil (Gas Pembawa)
•Sistem Injeksi Sampel
•Kolom
•Detektor
•Pencatat (Recorder)
3.2.
SARAN
Demikian makalah ini di susun,
tentunya banyak kekurangan baik dalam segi isi atau penyampaiannya. Oleh karena
itu, saya mengharap kritik dan saran demi kesempurnaan makalah kami. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
Penulis juga berharap kromatografi
gas yang telah disajikan dalam bab pembahasan dapat dijadikan referensi ataupun
tambahan wawasan bagi pembaca sehingga dapat membedakannya dan dapat
menerapkannya secara tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan, Mochamad. 1997. Teknik
Kromatografi untuk Analisis Bahan Makanan. Yogyakarta: Andi Offset
Anonim.2010.Kromatografi
Gas.http://bondiebluesy.wordpress.com/2010/03/08/kromatografi-gas/.Di Akses 3
Juni 2012
Sastrohamodjojo Harddjono Dr.
Kromatografi. IPB Press. Bogor 1985
Soebagio, Drs Dkk, Kimia Analitik
II, Jica Common Textbook, Malang 2002
Underwood, Analisis Kimia
Kuantitatif, Erlangga Jakarta. 2004
Instrumentasi
Kromatografi Gas
Sistem kromatografi gas ditunjukan pada Gambar 12.4.
Kromatograf gas terdiri dari gas pembawa, injektor, kolom, detektor dan sistem
data.
Gambar 18.4. Skema Sistim Kromatografi Gas
Injektor (Cara masuknya sampel)
Ada berbagai cara sampel dimasukkan ke dalam kolom. Sebagian
besar kromatografi gas dilengkapi dengan jenis injektor yang bisa memasukkan
cairan langsung ke dalam kolom menggunakan jarum suntik. Tipe injektor yang
digunakan tergantung jenis kolom yang dipakai.
Tabel 18.1. Perbandingan kolom konvensional dan kolom
kapiler
Tipe kolom dan operasi menentukan desain dan operasi dari
sistem pemasukan sampel dan detektor yang digunakan. Injektor kolom kapiler
mempunyai beberapaperbedaan fundamental dari injektor konvensiona.l Hal ini
disebabkan oleh perbedaan karakteristik kolom. Seperti pada Tabel 11.1, volume
maksimum sampel yang dapat dimasukkan pada pipa kapiler adalah 0,01 ul.
Gambar 18.4. GC Pneumatik / Capillary GC
Oleh karena itu sampel yang dimasukkan harus memiliki
reproducibly. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat yang dinamakan
Splitter (Gambar 18.5).
Gambar 18.5. Injektor pada kolom konvensional dan kolom
kapiler
Jumlah komponen yang dipisah ditentukan dari split valve dan
ditentukan dari split ratio :
Sekat pembersih (septum purge) diperlukan untuk menghindari
kontaminasi sampel dengan materi yang berasal dari sekat.
Sampel Gas
Metode yang mudah untuk memasukkan gas-gas adalah lewat
katup sampling gas. Volume gas dapat divariasikan tergantung pada ukuran loop.
Loop tambahan dapat dijadikan satu untuk menjebak sampel dengan pendinginan.
Pemanasan pada loop kemudian bisa melepaskan sampel.
Gambar 18.6. Katup sampling pada GC
Sampel Padat
Sampel padat misalnya; parfum dalam bentuk bedak atau
serpihan sampel dapat dikemas dalam kapsul dan pecah di injektor. Sampel
gelas/kaca dapat dihancurkan sebelum diinjeksikan sedangkan campuran yang
memiliki titik lebur rendah dapat dilelehkan untuk pelepasan sampel. Sampel
padat dapat juga dipirolisis dan komponen yang bersifat padatan dibuang. Metode
ini digunakan untuk sidik jari
Kolom
Kolom dapat dibuat dari berbagai jenis material,seperti
stainless steel, aluminium, tembaga, gelas dan paduan silika. Sebagian besar
sistem kolom modern terbuat dari gelas atau paduan silika. Kolom konvensional
dibuat dari material pendukung yang dilapisi fase diam dari berbagai pembebanan
yang dikemas di dalam kolom. Kolom kapiler terdiri dari tabung kapiler panjang
yang didalamnya dilapisi dengan fase diam (fase diam dapat juga direkatkan
langsung pada permukaan silika). Sebagian besar kolom kapiler terbuat dari
paduan silika yang dilapisi polimer di bagian luarnya. Paduan silika sangat
mudah pecah sedangkan lapisan polimer tersebut bertindak sebagai pelindungnya.
Tipe Kolom dan Pengoperasian Kolom
Kolom dimana pemisahan terjadi, memiliki dua tipe dasar
yaitu Kolom kemasan konvensional dan Kolom kapiler atau Kolom tabung terbuka.
Kolom dapat dioperasikan dengan dua cara , yaitu : secara isotermal (temperatur
konstan) dan temperatur terprogram (variabel peningkatan temperatur dan waktu ditahan
pada temperatur konstan).
- Operasi
Isotermal
Pada operasi isotermal, temperatur kolom dijaga konstan. Batas temperatur maksimum dan minimum dipengaruhi stabilitas dan karakter fisik fase diam. Batas bawah ditentukan oleh titik beku dan batas atas ditentukan oleh “bleed” dari fase diam. Bleed adalah fase diam masuk ke detektor. Secara umum pada mode operasional ini, injektor dioperasikan 30oC diatas temperatur komponen dengan titik didih maksimum (kolom kemasan konvensional). - Operasi
temperatur terprogram (TPGC)
Pada kromatografi gas temperatur terprogram, temperatur oven dikendalikan oleh sebuah program yang dapat mengubah tingkatan pemanasan yang terjadi antara 0,25o
C sampai 20oC. Sebuah oven massa rendah mengijinkan pendinginan dan pemanasan cepat dari kolom yang dapat ditahan sampai 1oC dari temperatur yang diperlukan. Pada operasi temperatur terprogram diperlukan pengendali aliran untuk memastikan kesetabilan aliran gas. Kestabilan aliran sangat diperlukan untuk mencapai stabilitas hasil detektor yang baik yang ditunjukan pada garisbawah/baseline datar yang stabil. Fase diam harus stabil secara termal melewati range temperatur yang lebar. Bleed dapat diganti dengan menjalankan dua kolom yang identik secara tandem, satu untuk pemisahan komponen dan yang lain untuk melawan “bleed”.
Detektor
Untuk mendeteksi komponen yang terpisah dari kolom,
diperlukan alat pendeteksi. Pada kolom kapiler penambahan gas (make up gas)
digunakan untuk menghilangkan komponen yang terpisah dari bagian akhir kolom ke
dalam detektor untuk mengurangi efek “dead volume” dan kecepatan aliran yang
rendah. Sebuah detektor yang ideal seharusnya:
- Mempunyai sensitifitas yang tinggi untuk mengenali unsur dalam bentuk gas. (1 volume terlarut : 1000 volume pelarut)
- Mempunyai respon yang linear terhadap jumlah unsur dengan cakupan yang luas.
- Tidak bergantung pada kondisi operasi, seperti : kecepatan alir.
- Mempunyai stabilitas baseline yang baik.
- Mudah perawatannya
- Mempunyai volume internal yang kecil (resolusi puncak)
- Mempunyai respon yang cepat untuk menghindari gugusan puncak
- Murah dan dapat dipercaya.
Ada dua tipe detektor, yaitu detektor integral dan
differensial. Sebagian besar kromatografi gas dikerjakan dengan menggunakan
analisis elusi dengan memanfaatkan detektor differensial, yang menghasikan
deretan puncak yang terpisah.
Detektor differensial banyak digunakan dalam kromatografi.
Respon terhadap konsentrasi bahan/larutan dalam fase bergerak ditampilkan dalam
sekejap. Respon detektor yang ditampilkan secara grafik adalah kromatogram diferensial.
Analisis Kualitatif
Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan yang dapat
menghasilkan identifikasi kualitatif. Bagaimanapun juga seorang analis harus
dapat memastikan bahwa hasil yang diperoleh adalah benar seperti yang
dtunjukkan oleh contoh di bawah.
Kromatografi gas dapat digunakan untuk analisis
karenaretensi bersifat karakteristik pada tiap senyawa. Identifikasi puncak
dapat diperoleh dengan menggunakan inframerah atau spektrometri masa akan
tetapi teknik sering tidak ada atau biaya sangat mahal.
Sampel yang paling sulit dianalisis adalah sampel yang
komponen-komponennya benar-benar tidak diketahui. Dalam hal ini konsultasi data
retensi terkadang tidaklah cukup.
Penambahan Unsur ke dalam Sampel (Spiking)
Metode percobaan yang paling mudah untuk identifikasi puncak
adalah dengan menambahkan komponen ke dalam sampel dan mencoba untuk mengamati
perubahan sebagai respon didalam spiked sampel.
- Metode mudah
- tidak mudah jika komponen yang lain mungkin memiliki waktu retensi yang sama.
- Dapat digunakan untuk menunjukkan ketidakhadiran dari suatu unsur dengan menampakannya pada waktu retensi yang benar-benar berbeda.
- Kemurnian spike harus diketahui karena ketidakmurnian dapat memberikan petunjuk yang salah.
Perbandingan Data Retensi
Volume retensi suatu komponen adalah karakteristik sampel
dan fase cair. Ini dapat digunakan untuk identifikasi komponen-komponen dalam
sampel. Data retensi yang belum terkoreksi biasanya tidak digunakan mengingat
volume retensi tergantung pada :
- Kolom
- Fase cair
- Temperatur kolom
- Kecepatan aliran
- Jenis gas pembawa
- Volume mati instrumen
- Penurunan tekanan across kolom
Akan tetapi hal itu dapat digunakan pada sampel yang sudah
diketahui informasinya dan tersedia standarisasinya. Kemampuan instrumen dalam
menghasilkan data di perlukan dalam operasional isotermal maupun terprogram.
Jika semua parameter operasional dapat konstan berulang-ulang maka perbandingan
data retensi sampel dapat dibuat terhadap standar.
Gambar 18.19. Perbandingan kromatogram larutan standar (B)
dengan larutan sampel (A)
Retensi Relatif a sebagai Data Retensi yang direkomendasikan
untuk Indentifikasi sampel yang tidak diketahui. Retensi relatif a adalah yang
direkomendasikan untuk indentifikasi puncak sebagai sesuatu yang relatif
terhadap standar dan juga diperoleh dari data retensi yang disesuaikan. Ini
lebih mudah diperoleh dan hanya bergantung pada jenis fase cair dan temperatur
kolom.
Identifikasi dengan Logaritma Retensi
Mengambarkan grafik dari data retensi relatif atau yang
disesuaikan terhadap berbagai parameter fisik senyawa atau serangakaian
homologi dapat memberikan petunjuk dari identitas sampel yang belum diketahui.
Identifikasi dengan Menggunakan Retention Index
Konstanta bahan terlarut Kovats Indices dan Rohschneider
dapat memberikan petunjuk yang baik mengenai identitas atau jumlah karbon untuk
beberapa senyawa. Data ini tersedia dalam Jurnal Kromatografi dan publikasi
ASTM. Metode pergeseran puncak juga merupakan alat yang baik untuk identifikasi
kualitatif.
Identifikasi dengan Menggunakan Dua Detektor
Perbandingan rasio respon dari senyawa yang dianalisa oleh
dua detektor yang berbeda dibawah kondisi yang telah ditetapkan bersifat
karakteristik pada senyawa tersebut.
Sampel biasanya dikromatografikan pada satu kolom dan kolom
dibagi untuk dua detektor yang berbeda dengan yang masing-masing di rekam ke
kromatogram secara bersamaan.
Kedua detektor tersebut spesifik seperti detektor “flame
photometric detector (FPD)” akan memberi respon pada senyawa-senyawa sulfur dan
phosporus, detektor “electron captive detector (ECD)” akan memberi respon pada
senyawa-senyawa halogen, sementara thermionic spesific detector (TSD) akan
memberi respon pada senyawa-senyawa nitrogen dan phosphorus. Detektor-detektor
tersebut diterapkan secara luas dalam analisa obat-obatan dan pestisida.
Pendekatan ini umumnya direkomendasikan untuk deteksi
senyawa spesifik dibandingkan general qualitative digunakan sebagai kromatogram
yang sulit untuk diinterpretasikan. Identifikasi dengan Penggabungan dengan
Metode penentuan Fisik lainnya
Pada saat fraksi dari senyawa yang dielusi telah dikumpulkan
ini memungkinkan untuk diidentifikasi oleh teknik fisik lainnya. Teknik ini
termasuk :
- Mass Spectrometry – Berhubungan langsung dengan kolom kapiler
- Infra red spectrometry – langsung ke dalam cell sampel gas atau cair
- Nuclear Magnetic Resonance
- Coulometry
- Polarography
- UV Visible Spectroscopy
- Atomic absorption
- Inductively coupled plasma
- Flamephotometry
Uji Kimia
Effluen gas dapat bergelembung pada saat meewati tabung yang
berisi reagen-reagen dan rekasi dapat teramati untuk memberikan petunjuk untuk
mengidentifikasi senyawa seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Metode ini mahal dan diterapkan dengan cepat.
Analisa
Kuantitatif Kromatografi
Hubungan Dasar
Dengan komatrogram yang diperoleh dari detektor diferensial
yang mana memiliki respon linier, penggantian/jarak dari garis belakang pada
saat tertentu adalah suatu ukuran konsentrasi dari komponen dari gas pembawa di
saluran keluar kolom.
Kurva integral dihasilkan yakni area puncak dari puncak
adalah sebanding dengan jumlah komponen yang ada. Dalam kromatogram yang ideal
dimana puncak merupakan kurva Gaussian simetrik lalu ketinggian puncak akan sebanding
dengan.
Area puncak adalah a konsentrasi komponen bila Gaussian maka
area a ke tinggi puncak.
Kalibrasi
Oleh karena itu kalibrasi dapat dicapai dengan menjalankan
satu rangkaian standar yang diketahui konsentrasinya dan membandingkan respon
area yang dihasilkan antara standar dan sampel.
Sejumlah metode lainnya digunakan oleh para peneliti dalam
menghitung kuantitas komponen dalam sampel. Hal ini termasuk
Normalisasi Internal
Area dari setiiap puncak sesuai dengan komponen spesifik
dalam sampel telah terbentuk kemudian ditambahkan untuk memberi suatu total
area yang ditetapkan pada 100%. Masing-masing area komponen kemudian dinyatakan
sebagai persen dari nilai ini.
Akan tetapi senyawa-senyawa yang berbeda akan memberikan
respon berbeda terehadap detektor, oleh karena itu perlu ditentukan faktor
koreksi. Karena detektor yang berbeda akan beroperasi pada prinsip yang berbeda
maka perlu dihitung faktor yang berbeda untuk tiap detektor yang berbeda.
Faktor dapat ditentukan berdasarkan berat atau molar.
haloo... boleh banget doongg
BalasHapus